Legenda akan sesuatu hal memang terasa unik dan selalu menarik untuk didongengkan atau diceritakan kembali secara turun menurun. Bukan hanya untuk mengingatkan kembali akan suatu memoar, namun penceritaan kembali sebuah legenda juga akan dapat mempertahankan kelestarian cerita rakyat tersebut lengkap dengan budaya dan hal-hal yang tersirat di dalamnya. Seperti halnya Ronggeng, saya yakin bahwa sudah banyak orang tau atau setidaknya mendengar kata tersebut sebagai sesuatu yang begituIndonesia. Yah, Ronggeng merupakan sebuah kesenian rakyat tentang seorang penari yang akan menghibur penduduk desa suku jawa jaman dahulu pada malam hari. Tapi, apakah hanya sebatas itu?
Terinspirasi dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, Ifa Isfansyah yang sebelumnya dikenal lewat Garuda Di Dadaku (2009) dan Percakapan Ini, salah satu segmen di omnibus Belkibolang (2010), kembali duduk di bangku sutradara untuk mengangkat legenda penari ronggeng ini ke ranah film. Dengan dukungan Salman Aristo dan Shanty Harmayn bersama Ifa sendiri tentunya yang menulis naskah, film ini kemudian benar-benar dibuat melalui sentuhan gambar-gambar cantik khas Yadi Sugandi dan diiringi gubahan music score oleh duet Aksan-Titi Sjuman untuk selanjutnya diperkenalkan sebagai Sang Penari.
Bercerita mengenai kisah cinta dua anak manusia, Rasus dan Srinthil, Sang Penari mengawali kisahnya pada tahun 1953 saat mereka berdua masih sangat belia di kampung yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk. Di sinilah ronggeng menjadi sesuatu hal yang sangat diagungkan dengan kepercayaan magisnya sebagai suatu warisan yang harus dilestarikan sekaligus persembahkan kepada leluhur kampung di setiap pertunjukannya. Begitu pula dengan sang penari ronggeng, penduduk kampung percaya bahwa tidak semua orang bisa menjadi penari ronggeng, karena diyakini bahwa leluhur mereka sendirilah yang akan memilih dan menentukan siapa titisannya. Srinthil, dengan kemampuan menari yang magis, kemudian membuat para tetuah Dukuh Paruk percaya bahwa dirinya adalah titisan ronggeng.
Bermula dari sini Sang Penari selanjutnya membawa kita untuk lebih mengenal tentang apa dan bagaimana sebenarnya ronggeng itu dijalankan, dilestarikan, dan bahkan diagungkan. Bagaimana tugas, kewajiban, dan tanggung jawab seorang ronggeng yang tidak mudah, juga pengorbanan akan kepentingan pribadinya yang ia lakukan demi menjadi seorang penari ronggeng sebagai dharma baktinya untuk orang tua, orang-orang di sekitar dan terutama nama baik Dukuh Paruk. Yah, karena memang menjadi ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuh di pentas-pentas tari, namun juga akan menjadi milik seluruh warga Dukuh.
Keadaan memperihatinkan yang harus dialami Srinthil sebagai ronggeng ini menempatkan Rasus pada sebuah kegalauan, dimana ia merasa cintanya telah dirampas secara paksa tanpa perlawanan. Hingga akhirnya di dalam keputusasaan, ia meninggalkan dukuhnya untuk menjadi anggota tentara. Film ini kemudian bergerak ke dalam situasi yang semakin rumit, tentang bagaimana perasaan Srinthil yang lambat laun merasa bahwa apa yang ia jalani bukanlah apa yang ia inginkan dan bertentangan dengan hasratnya untuk hidup bersama Rasus. Apalagi zaman telah berubah ke masa-masa kelamIndonesia, saat banyak orang-orang tak bersalah menjadi korban untuk kepentingan golongan tertentu dengan hanya iming-iming makan.
Tahun 1965, jaman benar-benar telah berganti dan serta-merta membawa Dukuh Paruk pada satu tingkat lebih maju dalam sektor pembangunan dan kesejahteraan namun tidak pada sumber daya manusia, dalam arti bahwa semua yang nampak dari luar hanyalah sebuah fatamorgana atas hasil akhir dari kepentingan segelintir orang yang dengan sukses memperdaya warga Dukuh Paruk. Di saat inilah Rasus kembali ke dukuhnya dengan sebuah dilema yang memaksanya memilih antara loyalitas sebagai wujud dharma bakti kepada negara atau cintanya kepada Srinthil. Dalam fase penceritaan inilah Sang Penari terlihat begitu berani mengusik kembali sejarah kelam Indonesia kala itu dimana kemiskinan, ketidaktahuan, dan keinginan untuk hidup menjadi sebuah ladang pembodohan masal yang akhirnya berujung pada kekerasan yang tragis nan mengenaskan.
Dengan skenario yang tanpa menyebutkan kata “cinta”, “sayang”, atau sejenisnya di sepanjang film, Sang Penari sukses membuat saya menari di paruh awal film diputar, menikmati bagaimana mitologi dan segala sesuatu yang baik dan buruk tentang ronggeng dipaparkan. Sampai pada suatu titik saya tersadar bahwa ini adalah sebuah film tentang kisah cinta. Dan dari sinilah saya benar-benar menyadari bahwa cinta itu bisa jauh lebih berarti jika diungkapkan dengan perasaan yang tulus, pengorbanan, serta juga sikap dan perilaku tanpa harus mengucapkannya.

Producer: Shanty Harmayn
Director: Ifa Isfansyah
Writers: Salman Aristo, Shanty Harmayn, Ifa Isfansyah
Casts: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Happy Salma, Teuku Rifnu, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -