Info Awal :
Sedikitnya delapan orang pejalan kaki tewas tertabrak mobil Daihatsu Xenia berwarna hitam, Minggu (22/1). Kecelakaan terjadi di Jalan MI Ridwan Rais, Tugu Tani, Gambir, Jakarta Pusat, sekitar pukul 11.00 WIB.

Seperti ditulis Antara, petugas Polsek Metro Gambir Jakarta Pusat Aiptu Afrizal mengatakan, pejalan kaki yang tewas telah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakpus. Namun belum jelas kronologis kecelakaan.


Berdasarkan informasi Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas tersebut terdiri atas tiga orang perempuan, empat orang laki-laki dewasa, dan seorang anak berusia tiga tahun. Sedangkan identitas korban belum diketahui.

 Akibat kecelakaan maut di Tugu Tani, Jakarta, Rohmari kehilangan empat orang anggota keluarganya. Pengemudi bajaj ini meminta pengemudi Xenia yang menjadi tersangka dalam kasus tersebut tidak lepas tanggung jawab.

"Kita hanya minta tanggung jawab pelaku. Bayangkan bagaimana rasanya kehilangan keluarga seperti begini," ujar Rohmari lesu.

Kepada wartawan yang mencegatnya di kamar jenazah RSCM, Jakarta, Minggu (22/1/2012), Rohmari menyatakan tujuh anggota keluarganya menjadi korban tertabrak Xenia di bundaran Tugu Tani. Empat orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka serius.

"Yang meninggal Nani, dia anak saya dan sedang hamil 3 bulan; Suyatmi (50) adik ipar saya; Pipit (18) dan Yusuf Sigit (2,5) itu cucu. Insya Allah semua akan dimakamkan di Singorejo, Jepara," paparnya.

"Yang dirawat di RSPAD, selain Teguh dan Siti juga Kenny (9) cucu saya," imbuh Rohmari.

Dia mengatakan, Teguh Hadi Purnomo-Siti Mukaromah adalah pasangan suami istri. Dia belum mengabarkan kepada keduanya bila anak mereka, Yusuf Sigit (2,5), tewas dalam kejadian tersebut.

"Siti menantu saya, dia istri Teguh. Mereka belum saya kasih tahu anaknya meninggal," ungkap Rohmari.


Pengemudi Daihatsu Xenia yang menewaskan 9 pejalan kaki, Apriani Susanti (29), terbukti positif menggunakan sabu-sabu. Sebelum kecelakaan maut terjadi, Apriani diketahui usai menghadiri pesta ulang tahun temannya.

"Habis pesta ulang tahun temannya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan, Senin (23/1/2012).

Menurut Rikwanto, dalam acara ultah yang dihadiri Apriani bersama tiga rekannya itu, mereka juga melakukan pesta sabu. Saat ini kasus penggunaan narkoba masih dikembangkan oleh Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

"Mereka nyabu bersama," tutur Rikwanto.

Rikwanto menolak menjelaskan lokasi Apriani cs menghadiri pesta ulang tahun. Namun diketahui sebelum terjadi kecelakaan, perempuan bertubuh tambun itu habis dari Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

"Lokasinya di suatu tempat saja," katanya.

Hasil tes urine dari RS Kramat Jati, Jakarta Timur, Apriani bersama Deny Mulyana (30), Adistria Putri Grani (26) dan Arisendi (34) positif mengguanakan narkoba.

Polisi menetapkan Apriani sebagai tersangka dalam kecelakaan maut yang menewaskan 9 orang itu. Apriani ditahan di Polda Metro Jaya. Sedangkan tiga rekannya masih berstatus sebagai saksi.

Sebelum kecelakaan terjadi, perempuan yang bekerja freelance di production house perfilman itu habis dari Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Saat kecelakaan mobil dipacu dengan kecepatan hingga 100 Km/Jam.

Saat diperiksa Apriani tidak memiliki SIM dan STNK. Apriani Cs terancam dijerat dengan Undang-uddang Narkotika dan Psitropika.
Korban-Korban :










Sejak kejadian naas pada Minggu (22/1/2012) kemarin, tempat kejadian Xenia yang menabrak 12 orang (9 di antaranya meninggal) terus menjadi objek tontonan warga. Karangan bunga mulai berdatangan di lokasi kejadian.

Pantauan detikcom, Senin (23/1/2012) di Jl Ridwan Rais, Jakarta Pusat, tempat kejadian perkara insiden maut tersebut, banyak masyarakat yang memadati area itu. Lokasi kejadian sendiri ada di sekitar halte bus kota, yang tak jauh dari Kementerian Perdagangan.

Tampak police line yang terpasang mengitari halte tersebut. Di dalam area police line, terdapat karangan bunga besar dari DPW PKS Jakarta. "Turut Berduka Cita atas Korban Kecelakaan Maut," demikian tertulis dalam karangan bunga berukuran besar itu.

Masih di dalam area police line, tampak beberapa warga meletakkan ikat bunga di tiang halte busway. Setidaknya sampai berita ini diturunkan terdapat lima ikat bunga yang disandarkan ke tiang halte busway. Berbeda dengan karangan bunga yang berukuran besar, lima ikat bunga yang ditaruh oleh warga tidak menyertakan nama pengirim.

Karena ramainya situasi, Jl Ridwan Rais yang mengarah ke Tugu Tani menjadi tersendat. Banyak pengendara yang berhenti dan turun dari kendaraan untuk memotret atau hanya sekadar melihat-lihat.

Hasil tes urine dari RS Kramat Jati, Jakarta Timur, Apriani bersama Deny Mulyana (30), Adistria Putri Grani (26) dan Arisendi (34) positif mengguanakan narkoba.

Polisi menetapkan Apriani sebagai tersangka dalam kecelakaan maut yang menewaskan 9 orang itu. Apriani ditahan di Polda Metro Jaya. Sedangkan tiga rekannya masih berstatus sebagai saksi.

Sebelum kecelakaan terjadi, perempuan yang bekerja freelance di production house perfilman itu habis dari Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Saat kecelakaan mobil dipacu dengan kecepatan hingga 100 Km/Jam.

Saat diperiksa Apriani tidak memiliki SIM dan STNK. Apriani Cs terancam dijerat dengan Undang-undang Narkotika dan Psikotropika.[/quote]

[quote=Apriani Pakai Narkoba Saat Singgah di Tempat Dugem di Jakpus]
Jakarta - Apriani Susanti (29) sudah ditetapkan polisi menjadi tersangka kecelakaan yang menewaskan 9 pejalan kaki di kawasan Monas. Diketahui, saat mengemudi, perempuan bertubuh subur ini memakai narkoba jenis sabu, ekstasi, dan ganja.

"Yang ditempat dugem di Jakarta Pusat dia pakai ekstasi, sabu, dan ganja," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (23/1/2012).

Malapetaka 'Xenia maut' itu terjadi pada Minggu (22/1) siang. Narkoba digunakan Apriani dan teman-temannya ditengarai pada Sabtu (21/1) malam hingga Minggu dini hari.

"Malam minggu itu, dia sempat mampir di cafe di Kemang minum whisky, kemudian pindah ke tempat dugem di Jakpus, kemudian pindah ke ultah temannya di sebuah hotel di kawasan Senayan," jelas Rikwanto.

Sembilan orang tewas meregang nyawa saat mobil Xenia yang dikemudikan Apriani Susanti menabrak kerumunan orang di sekitaran Tugu Tani, Jakarta Pusat pada Minggu (22/1/2012). Apriani tidak memegang SIM dan STNK saat diperiksa polisi. SIM Apriani sudah mati sejak tahun 2003 lalu tetapi mengaku sudah bisa mengemudikan mobil sejak SMA.

Teguh (31), salah seorang korban yang ditabrak pengemudi 'Xenia Maut' Apriani Susanti berniat berlibur di Jakarta bersama keluarganya dari Jepara. Namun naas, saat hendak ke Monas kemarin, Xenia telah menjadi penghalang tunggal dari rencana liburan mereka.

"Saya dari Jepara mau liburan tanggal merah ngajak keluarga. Rencananya hari itu kami mau ke monas," kenang Teguh, di Ruang ICU RSPAD, Senen, Jakarta Pusat, Senin (23/01/2012).

Diceritakan Teguh, peristiwa naas itu terjadi di dekat halte Tugu Tani di depan kantor Kementerian Perdagangan. Dia bersama keluarganya dari arah Salemba hendak pergi ke Monas dan menyeberang dari Tugu Tani mau ke trotoar.

"Pas waktu itu, tiba-tiba ada mobil kencang banget," tambah Teguh.

Sementara, di sebelah rombongan keluarganya sekitar 2 meter, ada juga rombongan anak-anak.

"Mobil itu nabrak anak-anak itu dulu," tutur Teguh.

Setelah ditabrak, Teguh mengaku dirinya mental lalu tak sadarkan diri beberapa saat. Ketika tersadar dia langsung mencari keluarganya di sekitar lokasi kejadian.

"Saat bangun, saya lihat keluarga saya udah bergelatakan di jalan. Saya langsung cari anak saya, saya gendong. Terus saya deketin Pak Lek saya, saya goyang-goyang tapi nggak bangun, kata orang udah nggak nafas. Saya goyang-goyang Bu Lek saya, sama aja. Trus saya ke istri saya, saya goyang-goyang dia masih bangun. Setelah itu ada yang bantu untuk bawa ke rumah sakit," jelas Teguh.

Akibat dari peristiwa naas itu, Teguh telah kehilangan 4 anggota keluarganya, yaitu Suyatmi (51), Fifit Alfia Fitriasih (18), Nanik Riyanti (25), dan Yusuf Sigit (2,5). Sementara, istrinya, Siti Mukaromah (30) saat ini sedang menjalani operasi di RSPAD.

"Kaki, tangan, pinggul patah tulang," ujar Teguh.

Soal pelaku, Apriani Susanti, Teguh menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Dia hanya ingin pelaku bertanggung jawab serta mendatangi para korban untuk meminta maaf.

"Dan minimal mengganti biaya perawatan," harap Teguh.

Kemarin, Minggu (22/01/2012) sebuah kecelakaan maut telah merenggut 9 nyawa pejalan kaki dan 3 orang luka-luka di Tugu Tani, Jakarta Pusat, tepatnya di depan Kementerian Perdagangan. 12 korban itu ditabrak Mobil Daihatsu Xenia hitam bernopol B 2478 XI yang dikendarai Apriliani Susanti dengan kecepatan 100 km/jam. Dirlantas Polda Metro telah menetapkan Apriliani sebagai tersangka dan 3 orang temannya yang ada di dalam mobil tersebut sebagai saksi.

Polisi sudah selesai meneliti urine pengemudi Xenia maut yang menewaskan 9 orang di Tugu Tani. Hasilnya, Apriani Susanti (29), bukan hanya memakai narkoba jenis sabu saja, tetapi juga narkoba jenis lain.

"Mobil Xenia pinjaman. sempat memakai narkoba jenis ekstasi dan ganja di tempat hiburan," tutur Kabidhumas Polda Metro Kombes Pol Rikwanto di Polda Metro jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (23/1/2012).

Rikwanto menjelaskan pula, kondisi Apriani Susanti tidak dalam kondisi yang bagus dalam berkendara. Sehingga dia kehilangan kendali atas mobilnya.

"Tersangka sempat kehilangan konsentrasi," tambahnya.

Sebelum kecelakaan terjadi, perempuan yang bekerja freelance di production house perfilman itu habis menghadiri acara di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Saat kecelakaan mobil dipacu dengan kecepatan hingga 100 Km/Jam.

Saat diperiksa Apriani tidak memiliki SIM dan STNK.

Sembilan orang tewas meregang nyawa saat mobil Xenia yang dikemudikan Apriani Susanti menabrak kerumunan orang di sekitaran Tugu Tani, Jakarta Pusat. Berikut nama-nama korban tewas:

1. Moch Hudzaifah alias Ujay, 16 th
2. Firmansyah, 21 th
3. Suyatmi, 51 th
4. Yusuf Sigit; 2,5 th
5. Ari, 16 th
6. Nanik Riyanti, 25 th
7. Fifit Alfia Fitriasih, 18 th
8. Laki-laki, belom diketahui namanya umur sekitar 17 th
9. Muhammad Akbar (23)

Hingga saat ini, ratusan warga masih menyemut di lokasi kejadian kecelakaan Xenia yang menewaskan sembilan orang. Akibat ramainya kerumunan warga, lalu lintas di Jl Ridwan Rais, Tugu Tani, Jakarta Pusat, tersendat sepanjang 200 meter.

Pantauan detikcom, Senin (23/1/2012), pukul 17.00 WIB, kepadatan dimulai dari depan Gedung PLN hingga menuju lokasi kejadian. Warga memadati bahu jalan dan memarkir motornya, di depan Gedung Kementerian Perdagangan dan di depan Gedung Pelayanan Pajak. Sekitar 4 polisi berseragam mengatur lalu lintas di daerah tersebut.

Para warga terlihat mengabadikan lokasi kejadian lewat kamera ponselnya. Sebagian dari mereka, juga ada yang bertukar video sesama pengunjung lain.

"Kita ingin tahu lokasi kejadiannya. Dan kebetulan di sini banyak yang punya video kecelakaan itu, makanya kita minta," kata Solihin, salah satu warga yang ditemui detikcom, di lokasi.

Kasatlantas Jakarta Pusat, AKBP Budiyanto, menegaskan untuk esok hari para warga tidak diperbolehkan memarkir kendaraannya di lokasi tragis tersebut.

"Untuk besok kita akan imbau jangan parkir di sini, karena besok hari kerja. Sekarang kita kasih toleransi," ujar Budiyanto di lokasi yang sama.

Afriyani Susanti (29) sudah mendekam di tahanan. Karena kelalaiannya mengemudikan Xenia bernopol B 2749 XI 9 orang pejalan kaki meninggal dunia. Polisi menyebut Afriyani cs mengkonsumsi narkoba. Namun alasan ke polisi, Afriyani mengaku mengantuk.

"Menurut mereka katanya ngantuk," kata Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Nugroho Aji, di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (24/1/2012).

Namun Nugroho menjelaskan untuk Afriyani telah ditetapkan menjadi tersangka atas kasus kecelakaan lalu lintas dan narkoba.

Nugroho juga menjelaskan saat mengemudi melintasi Tugu Tani, sebenarnya rekan-rekan Afriyani sudah mengingatkan agar membawa kendaraan jangan dengan kecepatan tinggi alias ngebut.

Afriyani diketahui beraktivitas padat sebelum kecelakaan terjadi. Mulai dari Sabtu (21/1) pukul 20.00 WIB di Hotel Borobudur, kemudian ke Kemang hingga pukul 02.00 WIB, Minggu (22/1), dan ke Stadium hingga pukul 10.00 WIB.

"Mungkin pengaruh alkohol dan ekstasi masih ada," tutur Nugroho.





Pakar hukum pidana, Hibnoe Nugroho, mengatakan, Afriyani 'sopir maut' bisa dijerat ke pasal pidana pembunuhan. Menurutnya, Afriyani sudah dalam tahap dewasa dan mengerti bagaimana dampak narkoba jika dikonsumsi seseorang.

"Karena dia sudah dewasa dan mengerti apa dari efek Narkoba. Pantas dijerat ke pasal 338 KUHP," kata Hibnoe, saat berdiskusi dengan detikcom, Jumat (27/1/2012).

Ia mengatakan, jika Afriyani dijerat menggunakan pasal yang domainnya ialah kelalaian, maka hal tersebut tidak begitu tepat. Menurutnya, unsur kelalaian tidak berlaku, karena sang pengemudi sudah dewasa.

"Dia sadar Narkoba itu ada efeknya. Terus dia tetap pakai, mana unsur lalainya?" ucap Hibnoe heran.

Namun, ia beranggapan, sebaiknya Polisi bersikap adil terhadap pengemudi yang kini menjadi buah bibir masyarakat. Pasal apapun yang menjeratnya, diharapkan dapat memberikan pelajaran kepada Afriyani.

"Kita harap proses hukumnya berjalan dengan baik dan tetap adil," tutup Dosen Universitas Jenderal Soedirman ini.

Sebelumnya diketahui, Afriyani dijerat dengan pasal 310 UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan hukuman maksimal 6 tahun penjara, Afriyani juga diancam dengan pasal 283 dan 287 UU yang sama dengan ancaman 2 bulan penjara. Selain itu Afriyani juga melanggar pasal 127 UU Pemberantasan Narkotika dengan hukuman 4 tahun.

Tindakan Afriyani Susanti (29) yang menabrak belasan pejalan kaki saat mengemudikan Xenia di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat, menimbulkan kemarahan banyak orang. Banyaknya orang yang menghujatnya sudah memberikan 'hukuman' tersendiri baginya.

"Dia tahu dia bersalah. Tapi belum juga diadili, dia sudah 'dihukum' duluan," ujar Efrizal, pengacara Afriyanti saat dihubungi detikcom, Kamis (26/1/2012) malam.

Efrizal mengatakan, kliennya itu sudah mengakui kesalahannya atas peristiwa kecelakaan yang menewaskan 9 orang dan 3 lainnya luka-luka. Bahkan, Afriyani juga sudah menyampaikan permohonan maafnya bagi keluarga para korban melalui keluarga dan Efrizal.

"Dia mengakui kesalahannya dan juga meminta maaf yang sebesar-besarnya melalui keluarga yang disampaikan ke beberapa media," ujar Efrizal.

Keluarga Afriyani sendiri sangat berkeinginan untuk menyampaikan permohonan maafnya secara langsung kepada keluarga korban.

"Bila perlu kita datangi satu persatu untuk meminta maaf secara langsung. Tapi kita masih menunggu suasana kondusif," ia menambahkan.

Efrizal berkata, Afriyani juga siap menanggung segala resiko atas peristiwa tersebut. Afriyani berkeinginan untuk memberi santunan sesuai kemampuannya.

"Karena keluarganya juga bukan orang berada. Kalau untuk uang kerahiman atau untuk tahlilan, keluarga siap," kata Efrizal.

Lebih jauh ia mengatakan, peristiwa kecelakaan itu sangat tidak diinginkan oleh Afriyani.

"Siapa yang berharap seperti itu? Dia juga tidak ingin terjadi kesalahan itu," tukas Efrizal.

Efriyani juga menyadari, banyak orang yang menghujat dirinya atas peristiwa itu. "Dia minta yang tidak punya kepentingan tidak usah berkomentar." lanjut Efrizal.

Polisi belum memungkinkan akan memberi kesempatan terhadap Afriyani Susanti (29) untuk menyampaikan maaf secara langsung melalui media kepada keluarga korban tabrakan. Afriyani saat ini masih menjalani pemeriksaan maraton oleh penyidik.

"Ada waktunya nanti kita hadirkan. Dia saat ini masih menjalani pemeriksaan dan kemarin diperiksa sampai belasan jam," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (26/1/2012).

Riwanto mengatakan, penyidik masih membutuhkan dia untuk pemeriksaan intensif. "Nanti kalau sudah selesai pemeriksaan," ucap dia.

Sementara Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Nugroho Aji berkata, Afriyani cs sempat mengungkapkan penyesalannya kepada penyidik karena telah menabrak belasan pejalan kaki di antaranya 9 tewas dan 3 lainnya luka-luka.

"Berkali-kali sama saya mengucapkan penyesalannya. Saya bilang, menyesal belakangan tetapi tetap kita proses," kata Nugroho dalam kesempatan yang sama.

Nugroho menambahkan, Afriyani dan teman-temannya juga masih shock dengan peristiwa kecelakaan tersebut.

Afriyani Susanti mengungkapkan permohonan maafnya kepada keluarga korban. Permohonan maaf Afriyani ini disampaikan secara tertulis yang dibacakan adiknya. Namun permintaan maaf ini dinilai masih belum cukup.

"Kalau bisa bertemu langsung untuk menyampaikan permohonan maafnya, kalau di media kan buat masyarakat umum," kata korban luka kecelakaan maut, Teguh Hadi Purnomo, pada detikcom, Kamis (26/1/2012).

Dalam kecelakaan maut Minggu 22 Januari, Teguh menderita luka ringan di kepala. Istrinya, Siti Markomah, juga terluka dan sekarang masih dirawat. Sedangkan anaknya, Yusuf Sigit (2,5 tahun), tewas.

Saat kejadian, Teguh sedang berjalan kaki bersama 7 saudaranya asal Jepara yang lain. Tiga kerabatnya juga tewas.

Teguh mengatakan, sampai saat ini belum ada satu pun keluarga Afriyani yang menemuinya di RSPAD. "Belum ada satu pun keluarganya yang ke sini," katanya.

Teguh berharap, Afriyani menanggung ongkos pengobatan istrinya. "Saya berharap dia mau bertanggung jawab atas kelanjutan pengobatan istri saya," katanya.

Kata maaf berulang-ulang tertuang dalam surat Afriyani Susanti (29) bagi 9 pejalan kaki yang tewas ditabrak Xenia yang dikemudikannya. "Maaf...maaf...maaf". Afriyani menyampaikan penyesalannya dalam tulisan tangan yang dibacakan adiknya, Ayudyah Safitri.

Saat bertemu wartawan di Kafe Bengawan Solo, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2012) malam, Ayu secara khusus membacakan surat itu atas permintaan kakaknya. Sambil terisak, lamat-lamat Ayu menyampaikan maaf.

Surat Afriyani ditulis tangan dan dilampiri materai Rp 6 ribu. Dalam naskah itu terdapat pula tulisan yang dicoret-coret. Berikut surat lengkap permintaan maaf Afriyani:

Assallammualaikum Wrh Wbr

Dengan ini saya Afriyani Susanti, melampirkan surat permohonan maaf atas kecelakaan yang terjadi pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2012, lewat keluarga saya dan kuasa hukum saya.

Sesungguhnya saya telah merasakan penyesalan yang sangat terdalam kepada semua korban dari saat kejadian tersebut hingga akhir dari perjalanan hidup saya nanti. Terkhusus untuk seluruh keluarga korban. Saya tak lagi bisa berkata-kata untuk mengungkapkan rasa penyesalan yang teramat dalam. Maafkan saya atas kehilangan cinta Anda, maafkan saya atas kehilangan pengharapan Anda, maafkan saya..

Demi Allah saya memohon maaf atas semuanya... Saya mungkin tak patut mendapatkan maaf dari Anda semua... Tapi izinkan saya untuk mengatakan "maaf...maaf...maaf!"

Di kesempatan ini, saya juga ingin meminta maaf kepada kakak saya, adik-adik saya, om, tante, saudara-saudara saya, sahabat dan seluruh teman-teman saya... Maafkan saya...dan terima aksih untuk semua doa dan dukungan.

Untuk ibu saya...maafkan saya bu. Anak ibu yang tak sedikitpun sempat membahagiakan ibu... Doa ibu cukup untuk membuat saya merasa lebih berarti dari apapun. Maaf bu...maaf.

Akhir kata... Saya Afriyani Susanti memohon ampun dari Allah SWT, atas kekhilafan yang saya perbuat. Ya Allah, semoga Kau terima tobatan ?? hamba. Dan hamba memohon bukakan pintu kebaikan dan kemudahan untuk para korban. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kemudahan.

Sekali lagi saya mohon maaf... Maafkan saya atas semuanya... Maafkan... Maafkan saya... Maafkan saya...

Wassalammualaikum Wrh Wbr


Jakarta, 25 Januari 2012


Keluarga korban kecelakaan 'Xenia maut' merasa kecewa dengan salah satu televisi nasional yang mempertemukan mereka dengan keluarga Afriyani Susanti dalam sebuah program di televisi tersebut. Keluarga korban menolak dan akhirnya meninggalkan gedung tempat acara tersebut berlangsung.

"Keluarga korban tidak dikasih tahu bahwa mereka akan dipertemukan dengan puhak tersangka. Mereka kecewa dengan pihak televisi karena tidak memberitahukan hal itu kepada mereka sehingga mereka pulang sebelum acara dimulai," ujar Ronny Talapesy selaku kuasa hukum 4 korban warga Tanah Tinggi saat berbincang dengan detikcom, Selasa (31/1/2012).

Ronny mengungkapkan, sedianya keluarga korban yalni Hudzaifah, Firmansyah, Buchary dan Akbar menghadiri undangan salah satu televisi dalam program khusus malam ini. Namun, tanpa pemberitahuan kepada keluarga keempat korban, keluarga Afriyani juga ternyata hadir dalam acara tersebut.

"Kita bukannya mau menahan-nahan, tapi pihak keluarga korban sendiri yang tidak mau. Mereka tidak mau dipertemukan dengan keluarga tersangka dalam forum publik seperti itu," ujar Ronny.

Ronny menambahkan, dipertemukannya keluarga korban dan tersangka dalam forum seperti itu tidak akan membuat suasana kedua pihak membaik. Ronny khawatir, perdebatan masing-masing 'kubu' justru akan menambah keruh suasan.

"Keluarga korban ini masih terluka dan mereka orang yang awam hukum. Takutnya nanti malah jadi ribut," ujar Ronny.

Ronny menambahkan, keluarga korban sudah memaafkan Afriyani. Dan bila keluarga Afriyani hendak meminta maaf, sebaiknya tidak dalam forum publik seperti itu.

"Kalau mau datang langsung ke rumah keluarga korban, jangan di forum seperti itu. Itu kan menyakitkan hati keluarga korban," tambah Ronny.

Sementara itu, Jumari selaku kakak (alm) Akbar mengaku meninggalkan lokasi acara karena belum siap bertemu dengan keluarga Afriyani. Jumari mengaku ia dan tiga kerabatnya tidak pernah diinformasikan oleh panitia acara mengenai pertemuan dengan keluarga tersangka.

"Tadi kita tidak dikasih tahu, saya pikir mau ada wawancara seperti biasa. Tapi ternyata ada keluarga Afriyani juga, kesannya kita mau diadu, kami tidak mau seperti itu. Kalau memang keluarga Afriyani mau meminta maaf, datang langsung ke rumah, ada aparat nantinya," ujar Jumari saat dihubungi secara terpisah.

khirnya pengemudi Xenia, Afriyani Susanti (29), dikenakan pasal pembunuhan oleh polisi. Pertimbangan itu diambil setelah melakukan pemeriksaan maraton terhadap Afriyani.

"Ya kemungkinan pasal pembunuhan 338 KUHP, ancamannya 15 tahun penjara," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, saat dihubungi detikcom, Selasa (31/1/2012).

Rikwanto menjelaskan saat ini Afriyani terus diperiksa. Penyidik menemukan indikasi yang bisa menjerat dan mengkaitkan pelaku dengan pasal pembunuhan.

"Soal nanti terlibat atau tidaknya bagaimana hakim," tuturnya.

Afriyani pada Minggu 22 Januari lalu menabrak belasan pejalan kaki. 9 Orang pejalan kaki meninggal dunia. Afriyani diduga menenggak minuman keras dan ekstasi sebelum peristiwa terjadi. Dia kini ditahan di Mapolda Metro Jaya. Sebelumnya Afriyani dijerat UU Lalu Lintas yang ancamannya hanya 6 tahun penjara.

Tim penyidik Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar rekonstruksi kecelakaan maut di Jalan MI Ridwan Rais, Tugu Tani, Jakarta Pusat, Sabtu 18 Februari 2012.
Reka ulang itu diperagakan langsung oleh tersangka Afriyani Susanti, 29, dan tiga temannya yang ikut menumpang Daihatsu Xenia hitam B B2479 XI. Mereka Adistria Putri Grani, 26, Deny Mulyana, 30, dan Arisendi, 34.

"Afriyani yang memperagakan," kata Kepala Sub Direktorat Penegakam Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Sudarmanto.
Afriyani mengenakan kemeja tahanan berwarna oranye yang kancingnya dibiarkan terbuka dan celana putih. Rambutnya ditutup selendang hitam. Dalam rekonstruksi yang dimulai dari pukul 6.00 sampai 9.00 WIB, dia memperagakan lebih dari 30 adegan.

Kuasa hukum Afriyani, Efrizal, menjelaskan reka ulang diawali perjalanan dari lampu merah sampai halte Tugu Tani. Setelah itu Afriyani langsung diperiksa di unit Kecelakaan Lalu Lintas Pancoran..




Polisi telah menangkap lima orang pengedar ekstasi di sejumlah diskotik yang diduga menjual ke pengemudi 'Xenia maut', Afriyani Susanti dan teman-temannya. Polisi kini tengah menyelidiki jaringan para pengedar tersebut.

"Jaringannya masih dikembangkan. Antara satu tersangka dengan lainnya tidak berkaitan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (22/2/2012).

Rikwanto mengatakan, jaringan narkotika biasanya menggunakan sistem sel terputus. Beberapa jaringan sering kali tidak dapat menunjukkan bos besarnya.

"Mereka biasanya bergerak masing-masing dan sel-selnya itu terputus," imbuhnya.

14 Februari 2012 lalu, petugas menangkap lima orang pengedar ekstasi, terdiri dari empat pria dan satu perempuan. Mereka ditangkap di tiga diskotik berbeda.

"Ada yang di Eksotis, Sidney dan Millenium," katanya.

Lima tersangka masing-masing berinisial SD (perempuan) dan empat pria berinisial AL, NA, NT dan J. Diduga, para tersangka tidak hanya mengedarkan ekstasi itu di tiga diskotik itu saja.

"Penyidik menduga, di antara mereka itu ada yang jual ke Afriyani," imbuhnya.

Rikwanto menyambung, penangkapan kelimanya dilakukan dalam serangkaian operasi yang digelar di sejumlah diskotik di kawasan Jakarta. "Operasi ke diskotik itu insidentil," imbuhnya.

Ia melanjutkan, dari para tersangka, polisi menyita 40 butir ekstasi. Mereka dijerat dengan pasal 112 jo 114 UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -