Bubi Chen (lahir di Soerabaja, Jawa Timur, 9 Februari 1938; umur 74 tahun) adalah seorang pemusik jazz Indonesia. Saat berusia 5 tahun oleh ayahnya Tan Khing Hoo, Bubi diserahkan kepada Di Lucia, seorang pianis berkebangsaan Italia, untuk belajar piano. Saat itu Bubi belum bisa membaca apalagi memahami not balok. Meskipun begitu, Bubi Chen bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Di Lucia karena Bubi Chen sudah terbiasa melihat kakak-kakaknya, Jopie Chen dan Teddy Chen, saat sedang berlatih piano. Bubi Chen belajar pada Di Lucia hingga tahun kemerdekaan Indonesia.


Setelah itu, Bubi Chen mengikuti kursus piano klasik dengan pianis berkebangsaan Swiss bernama Yosef Bodmer. Suatu ketika Bubi Chen tertangkap basah oleh Yosef Bodmer ketika sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bukannya marah, Yosef Bodmer justru berucap, “Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu”. Di umur 12 tahun, Bubi Chen sudah mampu mengaransemen karya-karya Beethoven, Chopin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Bubi Chen menilai musik jazz memiliki kebebasan dalam menuangkan kreatifitas dibanding musik klasik dengan kaidah-kaidahnya sendiri.

Beberapa waktu kemudian Bubi mulai mempelajari jazz secara otodidak. Ia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957. Salah seorang gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman.

Di Kota Buaya, Surabaya, Bubi Chen membentuk sebuah grup bernama The Circle bersama Maryono (saksofon), F.X. Boy (bongo), Zainal (bass), Tri Wijayanto (gitar) dan Koes Syamsudin (drum). Bersama Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustapha dan kakaknya Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesian All Stars. Kelompok Indonesian All Stars ini malah sempat berangkat dan tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelorkan album yang kini menjadi barang langka, "Djanger Bali". Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott. Bubi Chen pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit dan diproduseri Suyoso Karsono atau yang akrab dipanggil mas Yos.

Pada tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings pernah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh Willis Conover pada tahun 1960, seorang kritikus jazz ternama dari AS. Ia menyebut Bubi sebagai The Best Pianist of Asia (tahun 1960 Bubi berusia 22 tahun). Bubi juga pernah membentuk "Chen Trio" bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen ditahun 1950-an. Ditahun yang sama ia juga bergabung dengan "Jack Lesmana Quartet" yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Menetap di Surabaya, Bubi Chen menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa diantaranya cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng dan Widya Kristianti.

Pada pertengahan tahun 1976, Bubi merilis rekamannya yang berjudul Kau dan Aku, bersama Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, Hasan, dan Embong Rahardjo. Selain itu, ada dua buah rekaman lain yang eksotik, berupa eksperimen jazz dengan beat reog. Sedangkan pada tahun 1984, bersama pemain-pemain jazz seperti John Heard, Albert Heath, dan Paul Langosh, ia membuat rekaman di Amerika dan diedarkan di Indonesia. Rekaman itu diberi judul Bubi di Amerika.

Bubi Chen telah merilis banyak album, beberapa diantaranya: Bubi Chen And His Fabulous 5 , Mengapa Kau Menagis, Mr.Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian (1989), Bubi Chen and his friends (1990), Bubi Chen - Virtuoso (1995), Jazz The Two Of Us (1996), All I Am (1997) dan banyak lagi.[4] Beberapa catatan kritikus yang pernah dibuat antara lain sebagai berikut: Menanggapi karya Bubi Chen seorang Harry Roesli pernah menulis:
“     Bayangkan, sebuah otonomi estetik kecapi-suling disusupi secara indah oleh Bubi Chen dengan bentuk improvisasi dan subtitusi jazz. Bayangkan sebuah harmoni sakral dan hampir minimalis, dibayangi oleh idiom-idiom jazz dari permainan Bubi Chen dengan akur-akur seluas-luasnya, bahkan dengan teknik super-impossion yang demikian modern. Secara teknik saja, hal itu sudah menarik. Tetapi ini lebih dari itu, Bubi Chen total, lentur, "kawin" dengan pakem-pakem kecapi-suling, tanpa menghilangkan karakter dia yang kuat, juga kentalnya sentuhan dan rasa seorang Bubi Chen. Makanya, hal ini bisa disebut "Hebat"     ”
     
— Harry Roesli, 4 September, 1989,

Atau komentar musisi Iskandarsyah Siregar, saat bermain bersama di event Java Jazz "sepertinya Buby sulit memisahkan napas dengan musiknya". Karyanya diluar negeri. Misalnya, radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM Santa Cruz, di California Amerika Serikat yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat. Sebagai salah satu aset bangsa Indonesia, kita patut selalu berdoa bagi kesehatannya dan semoga masih tetap memberikan kontribusinya bagi perkembangan musik khususnya jazz di Indonesia. Bubi menikah dengan Anne Chiang pada tahun 1963 di Surabaya, dan kini adalah ayah empat anak.

Pada tahun 2004, Bubi Chen menerima penghargaan Satya Lencana pengabdian seni dari mantan presiden Megawati. Setahun kemudian, pada tahun 2005, Peter F. Gontha pada gelaran Java Jazz Festival yang pertama memberikan penghargaan sebagai musisi Jazz Living Legend kepada Bubi Chen. Bubi Chen juga mendapatkan Life Achievement Award dari gubernur Jawa Timur karena dinilai telah memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional melalui musik jazz. Penghargaan tersebut diberikan pada gelaran Wismilak The Legend of Jazz yang diadakan pada awal tahun 2010.

Pendidikan

    SD & SMP di Surabaya (1944-1947)
    SMA St. Louis di Surabaya (1948-1951)
    Kursus piano klasik dengan de Lucia (orang Italia, 3 tahun: Surabaya 1943-1945)
    Kursus Piano klasik dengan Josef Bodmer (orang Swiss, 8 tahun: Surabaya 1946-1954)
    Kursus Tertulis Jazz dari Wesco School of Music di New York, Amerika Serikat (1955-1957)

 Karier

    Karyawan RRI Jakarta (1955)
    Ikut Festival Jazz di Berlin (1967)
    Dosen di YMI & Yasmi Surabaya
    Mengadakan pergelaran jazz di TIM
    Guru Privat Piano
    Ketua Yayasan Musik Victor Indonesia di Surabaya
    Musikus Jazz (sekarang) Anggota Circle Band
    Pemimpin Indonesian All Stars Band

 Diskografi
 Bersama Jack Lesmana
    Djanger Bali - (SABA, 1967)
    Jazz Masa Lalu & Masa Kini - (Hidayat, 1976)

 Album Studio
    Bubi Chen & Kwartet - (Lokananta, 1959)
    Bubi Chen and His Fabulous 5 - (Irama, 1962)
    Bubi Chen – Buaian Asmara (1967)
    Lagu Untukmu - (Irama, 1969)
    "Bila Ku Ingat (Bubi Chen With Strings)" - (Irama, 1969)
    Margie Segers & Bubi Chen "Terpikat" (Hidayat, 1975)
    Mengapa Kau Menangis - (Irama Tara)
    Just Jazz - (Virgo Ramayana)
    Mr. Jazz
    Instrumental Piano - Pop Indonesia (Nirwana)
    Bubi Chen Plays Soft and Easy (Atlantic Records, 1977)
    Musik Santai (Atlantic Records)
    Jazz Meeting Vol.1 - Recoding Live In Bandung (Hidayat)
    Rien Djamain & Jack Lesmana Combo - "Telah Berlalu"
    Selembut Kain Sutera - (Hidayat)
    Kau Dan Aku - (Hidayat)
    Bubi Di Amerika - (Hidayat 1984)
    Kedamaian - (Hidayat, 1989)
    Bubby Chen and his friends - (Bulletin, 1990)
    Virtuoso - (Legend Records, 1995)
    Jazz The Two Of Us - (Legend Records, 1996)
    Judge Bao - (Legend Records, 1996)
    Romantiques - The Way We Were (Legend Records, 1996)
    Mei Hua San Lung - (Legend Records, 1997)
    Nice 'n Easy - My Way (Legend Records, 1997)
    Nice 'n Easy - Love Me Tender (Legend Records, 1997)
    Nice 'n Easy - What a Wonderful World (Legend Records, 1997)
    Romantiques - Monalisa (Legend Records, 1997)
    Romantiques - All I Am (Legend Records, 1997)
    A.S.I.C. Australia Singapore Indonesia Connection - (Legend Records, 1998)
    The Many Collours of Buby Chen
    Bubi Chen Plays Rock
    Best Of Me;; - (Platinum, 2007)
    Wonderful World - (Sangaji Music)
    Buaian Asmara - (DeMajors, 2007)

 Konser
    Bubi Chen di Jakarta Jazz Festival 2006
    Bubi Chen pada 150 Album Indonesia Terbaik Versi Majalah Rolling Stone.



Tidak banyak musisi jazz yang punya konfigurasi karakter seunik Bubi Chen. Temperamental yang tertuang dalam musiknya yang progresif, tapi sekaligus penyabar dengan hobinya menyusun miniatur mainan pesawat dan kapal era Perang Dunia II. Kesetiaannya pada Kota Surabaya yang membesarkannya juga tidak lazim di era 1970-an, tatkala banyak musisi Jazz di kota ini eksodus ke Jakarta mencari aktualisasi yang lebih berkilau.

Keputusannya ‘membasahkan diri’ di musik Jazz pun jadi pergulatan yang tidak mudah. Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media yang 10 tahun lebih ‘duet’ di program Jazz Traffic Suara Surabaya sejak 1985 menuturkan masa muda Bubi yang sarat ‘pemberontakan’.

Bubi remaja saat itu dileskan piano oleh orangtuanya. “Orangtua Om Bubi mendorong agar anaknya jadi pemain musik klasik. Tapi rupanya Om Bubi lebih senang Jazz dan di waktu senggang secara sembunyi-sembunyi, dia belajar musik Jazz sendirian,” kata Errol.

Warna Jazz Bubi remaja banyak dipengaruhi siaran Voice of America (VOA) saat itu yang banyak menampilkan musik-musik Jazz.

Beranjak dewasa, Bubi memilih Jazz sebagai jalan hidupnya. Pilihan yang sesuai dengan passionnya ini ternyata tepat. “Sinar’ Bubi Chen bahkan sudah terang sejak era Presiden Soekarno. Dia jadi diantara delegasi budaya Indonesia yang pernah dikirim ke Amerika Serikat. Itulah masa-masa awal dia berkenalan dengan musisi jazz dunia seperti Chick Corea, Herbie Hancock, dan Kenny Baron.

 Pada era ini, dia disejajarkan dengan musisi Jazz tersebut. Bahkan oleh Majalah Downbeat edisi tahun 1967, dia jadi satu diantara 10 pianis jazz terbaik dunia. Karya-karyanya juga direkam di berbagai negara, diantaranya Jerman dan Amerika Serikat. Komposisi yang menjadi ciri khasnya adalah menggabungkan gaya Jazz konservatif dengan nada-nada pentatonis musik nusantara. Karena kekhasannya ini, sejumlah musisi jazz dunia berguru padanya.

Diantaranya adalah Tonny Scott seorang pemain klarinet yang belajar pada Bubi Chen nada-nada pentatonis Jawa setelah bertemu dalam Berlin Jazz Festival tahun 1967. Gaya-gaya Jazz pentatonis Jawa Bubi Chen ini bahkan dipelajari tanpa sepengetahuan empunya gaya, seperti yang dilakukan Jean Garbarek dari Norwegia. ”Dia ’mencuri’ nada pentatonis saya,” kata BUBI saat ditemui suarasurabaya.net jelang konser Achievement for Bubi Chen, Mei 2011 lalu.

Di tanah air, Bubi Chen jadi guru untuk banyak musisi Jazz. Idang Rasjidi diantara musisi Jazz dari Jakarta saat tampil di Jazz Traffic Festival 2011 di Surabaya bahkan mengaku sangat menghormati Bubi Chen. Tak hanya sekadar omongan, sebelumnya Idang Rasjidi dan FX Boy musisi Jazz dari Surabaya pernah merealisasikan ide, membuat konser penggalangan dana di rumah pengusaha Arifin Panigoro untuk operasi Bubi Chen di Semarang.

FX Boy menyebut Bubi Chen The Last Living Jazz Legend di Indonesia. ”Beliau adalah yang terakhir diantara musisi legendaris di masanya seperti Jack Lesmana dan Maryono yang sudah tiada,” katanya.

Di Jawa Timur, jasanya tidak dilupakan. Pada 13 Maret 2010 lalu, Bubi mendapatkan Life Achievement Award yang disampaikan langsung oleh Soekarwo Gubernur Jawa Timur. “Ini adalah bentuk menghormati sang putra Surabaya dan Jawa Timur yang punya nama di dunia internasional," ujar Soekarwo dalam acara bertajuk The Legend of Jazz.


Hidup Bubi Chen mengalami banyak perubahan sejak kehilangan dua kakinya yang harus diamputasi karena diabetes yang dideritanya. Buat orang kebanyakan, kehilangan dua kaki mungkin jadi bencana tak terperikan di sisa hidup. Namun buat Bubi Chen, justru ini adalah titik tolak kehidupannya yang baru. Lebih cerah, lebih produktif, dan yang pasti, tidak ada lagi kesakitan.

Sejak 2005 bersamaan dengan memburuknya kesehatan, Bubi Chen memilih tinggal di Semarang bersama istri yang setia merawatnya. Tapi di sejumlah kesempatan, dia menegaskan dirinya tetap Arek Suroboyo. “Saya masih kangen rawon, sate klopo, dan pecel. Saya tidak mau meninggalkan kota yang melahirkan dan membesarkan saya,” papar dia.

Kondisi kesehatan Bubi Chen memburuk sebenarnya sejak usianya 30 tahun. Penyakit diabetes menggerogoti staminanya. Sampai akhirnya tahun 2010 lalu diputuskan untuk mengamputasi kaki kanannya agar tidak menjalar ke organ tubuh lainnya. Operasi ini dilakukan di Semarang. Namun awal tahun 2011 lalu, dokter juga memvonis harus segera dilakukan amputasi di kaki kirinya. Operasi ini dilakukan April 2011, juga dilakukan di Semarang.

Di akhir hidupnya, justru Bubi Chen sedang produktif. Pada 2009 lalu dia merilis albumnya, The Many Colours of Bubi Chen dengan eksplorasi komposisi-komposisi rock tahun 1970-an. Di tahun 2011, dia menggelar konser Achievement for Bubi Chen dan di tahun yang sama, ikut tampil di Jazz Traffic Festival. Sebelum meninggal dunia, Bubi Chen sebenarnya sedang menyusun albumnya, Bubi Chen Plays Pop menggandeng sejumlah musisi seperti Cindy Bernadette dan Eka Deli.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -