Kecewa kasus kematian anaknya tak pernah diusut tuntas, seorang warga Malang mendatangi Mapolda Jatim dengan jalan kaki. Kedatangan Indra Azwan (51) ke Polda ini untuk mengembalikan 'amplop suap' berisi uang senilai Rp 2,5 juta.

Indra berangkat jalan kaki dari rumahnya di kawasan Jalan Genuk Watu Barat Gang II No 95 Malang pada Sabtu (18/2/2012) pukul 09.00 WIB. Ia baru tiba di Surabaya, Senin (20/2/2012) pagi, kemudian langsung menuju Mapolda Jatim di Jalan Jend Ahmad Yani.


"Saya tidak butuh amplop kebohongan," kata Indra Azwan di Gedung Intel/Waspada Polda Jatim.

'Amplop suap' diberikan Kapolda Jatim kali itu Irjen Pol Pratiknyo kepada Indra di Polda Jatim pada 1 Mei 2010 lalu. Saat itu Indra memang menuntut pengusutan kasus tabrak lari yang menimpa anaknya Rifki Andika (12) yang melibatkan anggota Polisi Kompol Joko Sumantri di Jalan Letjen S Parman Kota Malang tahun 1993.

Bukannya diusut tuntas, kasus kematian anaknya ini justru semakin tak tersentuh. Padahal, Indra sebelumnya telah mengadu dan bertemu langsung dengan SBY di Istana Negara Jakarta pada 10 Agustus 2010 lalu.

"Ketemu Presiden ternyata bukan jaminan," tegasnya berapi-api.

Upaya Indra Azwan untuk bertemu Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiatmoko rupanya tak bisa diwujudkan. Saat Indra mencoba menghubungi lewat telepon selular pun, tak pernah dijawab oleh Kapolda Jatim.

"Ya sudah kalau memang Pak Kapolda tidak mau menemui saya, saya cuma ingin mengembalikan amplop kebohongan yang isinya uang Rp 2,5 juta ini," tuturnya.

Indra pun mengeluarkan sebuah amplop yang berisi uang senilai Rp 2,5 juta. Ia menyerahkan uang tersebut di meja Gedung Waspada.

"Bukan uang ini yang saya inginkan," pungkas Indra sambil berlalu, kembali berjalan kaki keluar kawasan Polda Jatim.

Kepada detiksurabaya.com, Indra Suyatna mengaku akan melanjutkan perjalanannnya menuju Jakarta melalui jalur pantura. Tak hanya sampai di Jakarta, Indra bahkan telah menyiapkan paspor dan visa untuk dirinya bisa berjalan kaki menuju Palembang, Dumai, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Iran, Kuwait, Riyadh, hingga sampai ke Mekkah.

Menurut Indra, segala instansi mulai dari kepolisian hingga Presiden tak bisa mewujudkan keadilan yang ia inginkan. Tujuan akhirnya hanyalah Mekkah untuk mencurahkan kekecewaannya atas 18 tahun mencari keadilan.

Hanya dengan membawa tas ransel, Indra yang mengenakan kaos dan celana doreng ini nekat akan melakukan perjalanan panjang ke Mekkah. Ia hanya membawa pakaian dan beberapa surat penting termasuk paspor dan visa.

Ia juga mengalungkan poster di tubuhnya yang bertuliskan 'Presiden SBY, Sayan Tidak Butuh Amplop, Saya Tidak Butuh Janji, Hanya Satu, Harga Mati KEADILAN Demi Nyawa Anakku 18 Tahun Berjuang'.

Tekad Indra Azwan kali ini sudah bulat, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya. Kemarahan yang luar biasa lantaran proses penegakan hukum kasus tabrak lari anaknya yang tewas njlimet hingga 19 tahun lamanya. Mengadu ke Baitullah di Mekkah, Arab Saudi akhirnya jadi pilihannya kali ini.

Sebelumnya, pada tahun 2010, dia pernah lakukan aksi ‘gila’, berjalan kaki dari Malang ke Jakarta untuk mengadu pada Presiden tentang ketidakadilan yang dialaminya. Kasus ini menarik perhatian publik. Pada 8 Agustus 2010, dia ‘mengadu’ ke patung Gorilla di Ragunan terkait ketidakadilan yang dialaminya. Sempat putus asa dan nyaris pulang ke Malang, dia dihubungi Denny Indrayana staf khusus Presiden bidang hukum dan pada 10 Agustus 2010 pukul 17.30 WIB dia bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tapi janji hanyalah janji. Sampai detik ini pelaku penabrak mati anaknya belum tersentuh hukum.

“Biarkan saya mati dalam perjalanan ke Mekkah ini. Kalau saya dibunuh, Alhamdulillah. Kalau saya mati, istri dan anak saya yang lain akan melanjutkan perjalanan ini, jalan kaki. Ini harga mati,” kata dia.

Lebih lanjut, dia mengaku sudah membuat wasiat jika meninggal nanti. “Kalau saya mati dalam perjalanan ini, saya minta jasad saya jangan dimandikan, jangan dikafani ! Antarkan mayat saya ke Istana Kepresidenan,” tegas dia dengan suara bergetar menahan amarah.

Indra Azwan mengatakan tidak ada lagi yang ditakutinya kecuali pada Allah SWT dan mendiang orangtuanya. “Jangankan Kapolda, Presiden saja saya tidak takut! Saya takut kalau saya salah! Saya hanya menuntut keadilan yang tidak pernah berpihak pada orang kecil seperti saya! Saya 19 tahun menunggu keadilan, tapi pelaku penabrak lari anak saya masih bebas, bahkan menjabat di Blitar. Ini sungguh tidak adil!” katanya saat ditemui suarasurabaya.net di Mapolda, tadi.

Dia menegaskan dirinya tetap akan menempuh perjalanan jalan kaki yang berisiko itu ke Mekkah. "Kecuali jika Presiden meminta saya untuk berhenti, saya akan berhenti. Tapi saya akan minta kejelasan pada Presiden tentang realisasi penegakan hukum yang saya tunggu-tunggu ini," pungkasnya.(edy)

Indra Azwan, Pria asal Malang, Jawa Timur, yang mencari keadilan terkait kematian anaknya yang tewas ditabrak oleh polisi akan kembali melakukan aksi jalan kaki. Tak tanggung-tanggung kali ini dia akan berjalan kaki menuju Makkah, Arab Saudi.

Indra mengatakan terpaksa akan melakukan hal itu karena tidak puas dengan penanganan kasus kematian anaknya. Dia pun sebenarnya sudah dua kali melakukan aksi jalan kaki Jakarta-Malang demi menuntut keadilan.

Namun, dia merasa janji-janji yang diungkapkan pihak Istana saat dia bertemu tahun 2011 silam ternyata hanya omong kosong belaka. Pasalnya, menurut Indra, anggota polisi bernama Joko SUmantri yang menabrak anaknya Rizki Andika, hingga tewas pada tahun 1993 lalu tak tersentuh hukum. Bahkan Joko masih menjabat di lingkungan Polda Jatim.

Kini Indra akan berjalan menuju Makkah, Arab Saudi. Alasannya ‘bapak pencari keadilan’ ini putus asa mengadu ke manusia. Tujuannya kini berharap keadilan dari sang khalik di tanah suci.

Indra mengaku sudah putus asa dengan menunggu janji-janji baik dari para pejabat kepolisian sampai Presiden SBY sekali pun. Bahkan dalam sidang laka yang baru digelar 18 tahun kemudian, pelaku penabrakan Kompol Joko Sumantri tetap tidak terjerat hukum.

Terkait persiapan perjalanannya ke Makkah, Indra telah mulai mempersiapkan fisiknya. Selain itu, dia juga telah menyiapkan paspor untuk perjalanannya tersebut.

Perjalanan kali ini diperkirakan akan memakan waktu selama satu tahun.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -