Jakarta Massa Koalisi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) terlibat bentrok dengan polisi di Gambir, Jakarta Pusat. Nyaris ruas jalan di dekat kawasan itu lengang. Para pengendara memilih memutar arah dan menghindari ruas jalan di sekitar Gambir.

Namun beda lagi dengan warga sekitar, bentrokan Konami dan polisi yang pecah pada Selasa (27/3/2012) sore itu justru menjadi tontonan. Warga berdiri di sepanjang sisi jalan, melihat polisi yang menembakkan gas air mata dan Konami yang melempar molotov.

Massa mahasiswa pun sesekali melempar batu ke arah petugas yang memakai tameng dan pentungan, serta kendaraan water cannon. Terlihat seorang mahasiswa maju dari kerumunan massa Konami sambil mengacungkan bajunya berteriak menantang petugas.

"Revolusi, revolusi, revolusi sampai mati!" teriak mahasiswa sambil bertelanjang baju di tengah hujan yang turun itu.

Warga hanya memantau dan melihat aksi mahasiswa. Lokasi bentrokan itu juga tidak jauh dari markas TNI AD. Namun TNI sama sekali tidak keluar dari markasnya, hanya berjaga di dalam saja.

Hingga pukul 16.45 WIB, polisi masih berupaya membubarkan massa Konami yang terus melawan. Polisi bertameng dan berhelm yang berjarak 50 meter, mulai merangsek ke arah mahasiswa.

Bentrokan massa Koalisi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami) versus polisi masih terjadi di kawasan Gambir hingga pukul 16.20 WIB. Sebuah mobil Xenia berwarna silver bernopol L 1653 PO terjebak dalam bentrokan. Body mobil tersebut penyok-penyok karena menjadi bulan-bulanan massa.

Pantauan wartawan, Selasa (27/3/2012), saling lempar batu antara mahasiswa dan polisi masih terjadi. Meski telah dilengkapi tameng dan helm, terlihat beberapa polisi melempar batu ke arah mahasiswa. Mahasiswa juga terlihat melempar bom molotov ke arah polisi.

Mobil water cannon terus menyemprotkan air ke arah kerumunan mahasiswa. Kepulan asap gas air mata sangat pekat di sekitar lokasi bentrokan. Kericuhan semakin tidak terkendali. Posisi pendemo yang cair dan polisi yang berbaris rapat dipisahkan jarak 50 meter.

Lalu lintas di depan stasiun Gambir pun ditutup. Tidak satu pun kendaraan melintas.

Para mahasiswa mengenakan jaket almamater aneka warna seperti warna hijau, kuning dan biru. Mereka membawa spanduk berisi tuntutan dan bendera organisasi serta bendera Merah Putih.

Hendra Saputra dari Konami sebelumnya menyebutkan, mereka juga membawa tinja yang akan dilemparkan ke polisi bila polisi bertindak represif.

Sekitar 50 mahasiswa dari Aliansi HMI Komisariat menutup Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Selain membentangkan spanduk mereka juga membakar ban di tengah jalan sehingga arus lalu lintas dari arah Tugu Tani ke arah Metropole (Megaria) macet.

Pantauan wartawan, Selasa (27/3/2012) pukul 16.15 WIB, massa mulai menutup jalan dengan membentangkan 2 spanduk bertuliskan 'Aliansi HMI Komisariat Tolak Kenaikan BBM' dan 'BBM Naik SBY Turun'. Posisi mereka di depan KFC, dekat Stasiun Cikini.

Dalam aksi tersebut, sebagian dari mereka mengenakan kopiah warna hijau dan mengibarkan panji-panji organisasi. Menggunakan Toa mereka bergantian berorasi. Selain menutup jalan dengan spanduk, massa juga mulai membakar ban di tengah jalan. "Mau jadi apa bangsa ini kalau BBM dinaikkan?" kata orator Supri.

Aksi ini dijaga oleh sepuluh polisi dan 2 anggota TNI. Akibat aksi tersebut, 2 ambulans yang menuju Megaria terhambat. Hujan pun tidak menyurutkan mahasiwa untuk beranjak dari jalan. "Kami akan demo sampai malam," ujar Supri.

Ramainya unjuk rasa menolak kenaikan BBM di beberapa tempat memberikan dampak positif bagi lalu lintas (lalin) di Jakarta. Lalu lintas Jakarta lebih lengang hingga mencapai 60 persen dari hari biasa.

"50-60 Persen ada penuruan volume kendaraan. Biasanya kalau jam segini sudah banyak kendaraan di sini yang lewat," kata Wadirlantas Polda Metro Jaya AKBP Wahyono saat ditemui di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (27/3/2012).

Menurut Wahyono, secara umum situasi lalin hari ini cukup lancar. Ada sekitar 10 bus yang masuk ke Jakarta dari Bekasi dan Tangerang. 10 Bus ini semuanya menyebar ke arah Jakbar, Jaksel, DPR, Istana Negara, dan Bundaran HI.

"Kita berharap situasi lalin tertib," ungkapnya.

Di Jakarta, lanjut Wahyono, kendaraan kurang lebih berjumlah 12 jutaan. Dengan berkurangnya aktivitas kendaraan di jalanan, diharapkan situasi lalin di Jakarta tetap terus lancar.

"Ya keadaan seperti ini yang layak untuk Jakarta. Jadi ke mana-kemana kita lancar kan," ucapnya.

SUASANA DI KOTA MALANG DAN SURABAYA
 
Peni Suparto Wali Kota Malang, turut serta bersama sejumlah masyarakat dalam aksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan di Balai Kota setempat, Selasa (27/3/2012).

Aksi itu, dilakukan Peni bersama massa Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Jawa Timur, atau organisasi kemasyarakat milik PDI Perjuangan Cabang Malang.

"Saya tegaskan, bahwa saya menolak rencana kenaikan BBM yang akan diberlakukan, penolakan itu bukan karena tekanan massa yang melakukan demo di Balai Kota, tapi memang untuk kesejahteraan masyarakat," kata Peni saat ditemui usai berorasi dalam aksi itu, seperti dilansir Antara.

Peni menjelaskan, dukungan penuh terhadap penolakan kenaikan harga BBM yang akan diberlakukan pemerintah itu sudah sesuai dengan aspirasi warga Malang.

Sementara menanggapi sanksi yang akan diberikan kepada kepala daerah yang turut serta dalam aksi menolak kenaikan BBM, Peni mengaku tidak takut dengan sanksi tersebut.

"Saya tidak takut terkena sanksi, sebab undang-undang melindungi saya karena dipilih langsung oleh rakyat, dan sebagai pejabat publik tidak bisa dipecat gara-gara menyampaikan aspirasi," katanya.

Peni mengaku, kenaikan harga BBM sangat merugikan rakyat, oleh karena itu dirinya meminta agar pemerintah mengoptimalkan tambang minyak yang ada di Indonesia.

Selain itu, melihat kembali kontrak kerja tambang minyak yang ada di Indonesia, sehingga pemerintah tetap bisa memberikan subsidi BBM sesuai kebutuhan.

"Solusinya yakni dengan mengoptimalkan ladang mhnyak dalam negeri. Serta meninjau ulang kepemilikan perusahaan asing terhadap lapangan minyak, tambang gas dan batu bara di Indonesia," katanya.

Peni mengatakan, selama ini keberadaan tambang minyak di Indonesia kurang dioptimalkan oleh pemerintah, padahal sesuai dengan undang-undang dasar, seluruh kekayaan alam dikuasai negara untuk kesejahteraan rakyat.

Meski ikut dalam aksi, Peni tetap mengimbau, agar aksi terkait penolakan kenaikan harga BBM di Kota Malang tetap dilakukan dengan damai, dan jangan merusak sejumlah aset milik negara.

Sebab, apabila aset milik negara dirusak, maka dana yang dipergunakan untuk memperbaikinya juga merupakan dana miliki rakyat.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan Dentum ITS dan Gerakan Kain Rakyat untuk Pemerintah.

Dalam aksi yang dilakukan Selasa (27/3/2012), sekitar 300 mahasiswa ITS Surabaya turun ke jalan. Mereka menutup separuh Jl. Basuki Rahmat, sambil membawa poster dan membentangkan kain kafan.

Kain kafan itulah yang disebut sebagai Kain Rakyat untuk Pemerintah. Imron Gozali Presiden BEM ITS mengatakan kain kafan itu sebagai sindiran untuk menutup rasa malu pemerintah karena telah membuat kebijakan yang tidak pro rakyat. Tapi justru berpihak pada neoliberalisme.

"Kain kafan ini untuk menutupi, dimana rasa malunya pemerintah? Mereka membuat kebijakan yang tidak pro rakyat, tapi pro neoliberalisme," ujarnya.

Selain itu, BEM ITS juga menyerukan Delapan Tuntutan Umum (Dentum) yang ditujukan kepada pemerintah. Delapan tuntutan itu adalah, peningkatan kesejahteraan rakyat, nasionalisasi aset di bidang energi, pertambangan dan industri strategis, percepatan pengembangan energi alterantif beserta infrastruktur, optimalkan pengelolaan kekayaan alam untuk rakyat sesuai UUP 1945 pasal 33, percepatan pembangunan transportasi massal, efisiensi anggaran belanja pemerintah, pemberantasan mafia anggaran, dan penguatan kemandirian ekonomi dalam negeri.

Setelah berorasi, massa menggelar aksi tidur di Jl.Basuki Rahmat tepatnya di depan Tunjungan Plaza. Menghindari massa partai politik, BEM ITS berunjukrasa hanya di sepanjang Jl. Basuki Rahmat.

MAKASAR

Di tengah gejolak demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ratusan mahasiswa di Makassar melakukan tindakan kriminal dengan aksi penjarahan sebuah restoran cepat saji McDonald yang terletak di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Selasa (27/3/2012) siang.

Ratusan mahasiswa gabungan dari Universitas Muhammadiyah (UNISMU) dan Universitas Islam Negeri (UIN) tiba-tiba saja masuk ke dalam restoran dan meminta air minum. Merasa tidak digubris, mahasiswa langsung masuk dan mengambil air minum botol yang terpajang di lemari pendingin. Usai melakukan penjarahan, mahasiswa kembali melanjutkan aksi demonstrasi.

Menurut petugas keamanan setempat Syamsul, ia tidak bisa berkutik lantaran jumlah mahasiswa mencapai ratusan orang. "Apa yang saya mau perbuat? Massa langsung masuk dan ambil barang," kata Syamsul.
 

MEDAN
Baku pukul antara mahasiswa dan polisi terjadi dalam aksi demonstrasi penolakan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Medan, Sumatra Utara, Selasa (21/3). Polisi yang tengah berjaga-jaga terpancing emosi hingga bentrokan tak terhindari.

Untuk membubarkan massa, polisi menyemprotkan air. Langkah itu dibalas lemparan batu oleh mahasiswa. Bahkan, polisi terlibat kejar-kejaran dengan mahasiswa. Akibat bentrokan itu, belasan mahasiswa dan lima polisi terluka terkena lemparan batu dan benda tumpul.

Di serang, Banten, ratusan mahasiswa bentrok dengan polisi di depan Gedung DPRD Banten. Polisi mencoba menghalau mahasiswa yang berunjuk rasa menolak rencana kenaikan harga BBM. Menurut mahasiswa, pemerintah masih mempunyai kebijakan alternatif sebelum memutuskan kenaikan harga BBM.

Saling lempar batu terjadi antara mahasiswa dengan polisi dalam aksi demonstrasi menolak kenaikan BBMdi Makassar, Sulawesi Selatan. Mahasiswa merusak mobil plat merah dan menyandera mobil tangki BBM.

Massa juga merusak sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Jumlah mahasiswa yang lebih banyak membuat polisi tidak dapat berbuat banyak.

Yogyakarta

Ratusan mahasiswa dari berbagai elemen hari ini menggelar aksi demo kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Aksi digelar dibeberapa tempat diantaranya di kawasan Malioboro, halaman DPRD DIY dan simpang empat JL Laksda Adisucipto.

Kawasan Malioboro dan halaman DPRD DIY 'dikuasai' massa Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DIY, Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM dan Gerakan Pemuda Progresif, massa PMII DIY dan GMNI DIY.

Massa Forum BEM DIY yang merupakan gabungan beberapa perguruan tinggi DIY datang lebih dulu di depan DPRD DIY dan langsung menggelar orasi di pintu masuk DPRD. Mereka membawa sebuah keranda terbalut kain putih bertuliskan 'Kubur SBY-Boediono Sekarang Juga". Massa juga membawa dua buah ban bekas yang siap dibakar.

Mahasiswa menuntut kenaikan harga BBM dibatalkan dan Presiden SBY-Boediono turun.

Massa Forum BEM DIY sempat tidak diperkenankan masuk gedung dewan. Terjadi negosiasi yang alot antara koordinator pengamanan gedung DPRD, aparat Polresta Yogyakarta dengan koordinator aksi Abdul Khalid. Namun akhirnya massa diperkenankan masuk dan menggelar orasi di halaman.

Tidak lama berselang, massa Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM yang datang berikutnya, langsung bergabung. Massa pun kemudian bergantian orasi untuk menolak kenaikan harga BBM dan menuntut presiden SBY-Boediono turun.

"BBM turun, SBY turun," teriak massa saat meneriakkan yel-yelnya.

Massa juga menuntut nasionalisasi aset perusahaan asing, tolak intervensi asing, renegosiasi kontrak karya dan revisi UU Migas.

Saat aksi berlangsung, sekitar gedung DPRD dijaga ratusan aparat kepolisian. Polisi menyiapkan dua tabung gas penyemprot kebakaran.

Selain gedung DPRD DIY yang dijaga aparat, kantor Pemasaran Pertamina wilayah Yogyakarta di Jl Mangkubumi juga dijaga ketat aparat.

SEMARANG

Meski dilarang Dewan Pimpinan Pusat (DPP), ratusan kader PDIP Semarang, Jateng, tetap berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Mereka menilai kenaikan harga BBM berdampak negatif terhadap kehidupan rakyat.

Aksi diawali dari Kawasan Simpang Lima, kemudian dilanjutkan ke depan gedung DPRD Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, Selasa (27/3/2012). Massa mengenakan topi, bendera, dan kaos partai serta spanduk berlogo lambang partai

"Di sini kami meneruskan apa yang diperjuangkan oleh pusat. Kami keberatan dengan kenaikkan BBM," kata Supriyadi, Sekretaris DPC-PDIP Kota Semarang, dalam or`sinya.

Dalam aksinya massa juga mengungkapkan kekecewaan terhadap pernyataan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo yang dinilai mendukung kenaikan BBM. "Pernyataan gubernur yang menyamakan kenaikan BBM hanya dengan harga satu atau dua puntung rokok sangat menyakiti hati rakyat," ungkap Supriyadi.

Karena pernyataan tersebut, Supriyadi menyatakan bahwa pihaknya tidak akan memilih lagi Bibit Waluyo dalam pemilihan Gubernur ke depan. "Prenyataan gubernur sangat kontradiktif, karena itu kami tidak akan memilih lagi pak Bibit."

Aksi yang diikuti ratusan massa tersebut sempat membuat kemacetan di Jalan Pahlawan. Polisi menutup jalan demi keamanan.

DENPASAR

Sedikitnya 5.000 minibus angkutan kota (angkot) tidak beroperasi karena diperkirakan banyak sopir angkutan umum itu ikut dalam aksi demo menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Sejak pagi hingga menjelang siang hari, ada sekitar 50 persen dari 12.000 unit angkot di Medan tidak beroperasi," kata Sekretaris Jenderal Keluarga Besar Sopir dan Pemilik Kendaraan (Kesper) Sumatera Utara, Israel Situmeang, Senin (26/3).

Sopir angkot yang tidak beroperasi tersebut, menurut dia, pada umumnya bergabung dengan sejumlah elemen masyarakat lain untuk menggelar aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM ke sejumlah instansi terkait.
Bahkan, ratusan sopir angkot yang berpangkalan di kawasan Terminal Terpadu Amplas Medan sekitar pukul 08.30 WIB berkumpul dan menggelar demo di perempatan jembatan layang Amplas.

Namun beberapa saat kemudian, aksi demo para sopir angkot itu dibubarkan oleh aparat keamanan karena aksi mereka dianggap mengganggu arus lalu lintas.
Israel memperkirakan, aksi mogok sementara para sopir angkot tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. "Kami mengakui banyak warga masyarakat pengguna jasa angkot kecewa atas berkurangnya jumlah unit armada angkot yang beroperasi," ujarnya.

Keputusan sopir angkot tidak beroperasi sementara, menurut dia, semata-mata bertujuan meminta pemerintah agar tidak merealisasikan keputusan menaikkan harga BBM yang direncanakan awal April 2012.
Bagi kalangan pelaku usaha dan sopir jasa angkutan umum, lanjut dia, kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga berbagai jenis barang dan biaya operasional meski tarif angkot dinaikkan.

"Jika harga BBM naik, tarif angkot mau tidak mau terpaksa harus dinaikkan. Kondisi ini tentunya akan ikut menambah beban bagi masyarakat pengguna jasa angkutan umum," ujarnya.
Karena itu, pihaknya tidak sependapat dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, meski dibarengi dengan pemberian beberapa paket kompensasi.

Ketua Umum DPP PDI PErjuangan Megawati Soekarnoputri mengeluarkan surat instruksi kepada seluruh kader partai berlambang banteng dengan moncong putih itu agar tidak menunggangi aksi-aksi massa menolak kenaikan harga BBM.

Saat konferensi pers di ruang Fraksi PDIP DPR Jakarta, Selasa, Wakil Sekjen Bidang Internal PDI Perjuangan Eriko Sotarduga menjelaskan, surat instruksi Megawati Soekarnoputri per tanggal 26 Maret 2012 tersebut dikeluarkan setelah mencermati situasi saat ini.

Surat Megawati itu menyebutkan bahwa pernyataan sikap menolak kenaikan harga BBM oleh struktur partai di seluruh Indonesia yang disampaikan kepada DPRD atau pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten dan kota itu dilarang menggunakan atribut partai dan tidak boleh pula melibatkan pihak ketiga diluar kader partai.

Dalam suratnya itu, Megawati juga meminta agar tidak dilakukan pengerahan massa ke Jakarta terkait penolakan kenaikan harga BBM tanpa ada ijin resmi darinya.
"DPP menginstruksikan kepada seluruh DPD dan DPC untuk waspada terhadap pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang akan membuat kerusuhan dan dapat merusak citra partai," kata Eriko.

Ditegaskan Eriko yang juga anggota Komisi VI DPR RI itu bahwa partai melihat adanya indikasi PDIP disebut-sebut ikut menunggangi aksi demo menolak kenaikan harga BBM saat ini. "Maka melalui surat ini ditegaskan hal itu tidak benar," tambahnya.

Dia juga mengatakan bahwa surat instruksi Ketua Umum DPP PDIP ini sekaligus memberikan petunjuk bagi kader partai dan bukan karena PDIP takut dengan tuduhan-tuduhan pihak tertentu.
"Kalau takut tentu kita tidak turun. Jadi, surat ini melihat situasi rakyat saat ini. Harus diingat, partai juga bagian dari rakyat," kata Eriko.

Saat ditanya tentang adanya keterlibatan sejumlah kader PDIP yang menjadi kepala daerah dan turut berunjuk rasa bersama massa menentang kenaikan harga BBM itu, Eriko menjelaskan bahwa sepanjang tidak membawa atribut partai dan aksi itu atas nama pribadi masing-masing silahkan saja itu dilakukan.

Mdnurut dia, hak berdemokrasi mereka sebagai warga negara tetap tidak bisa dilarang, tetapi yang jelas para kader partai itu tidak boleh menunggangi aksi-aksi massa menolak kenaikan harga BBM ini.

KALIMANTAN

Seratus  mahasiswa yang menamakan Forum Gerakan Mahasiwa dan Masyarakat Kalimantan Timur (FGMMKT) bersama aktifis Gerakan Mahasiswa Nasionalis  berunjukrasa menolak rencana kenaikan harga BBM dengan membakar ban di tengah jalan Gajah Mada,depan kantor Gubernuran, Samarinda, Selasa (26/3/2012).


FGMMKT danGMNI menolak kenaikan harga BBM yang ketigakalinya oleh pemerintahan SBY-Boediono  karena menyengsarakan rakyat kecil yang juga ditambah dengan kebijakan kenaikan tarif dasar listrik. 

Bantuan Langsung Tunai (BLT) dianggap para aktifis sebagai jebakan karena jumlahsaluran dana 150 perbulan bagi rakyat miskinselama 9 bulan tidak mencukupi kebutuhan hidup.
Kericuhan sempat terjadi saat berlangsungnya aksi demonstrasi yang dilaksanakan oleh sekitar 250 mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DIY, Sabtu (17/03/2012) pagi di perempatan UIN Sunan Kalijaga. Kejadian itu bermula ketika polisi berupaya menertibkan aksi demo yang sudah memacetkan lalu lintas di*kawasan tersebut.

Tak terima didorong paksa aparat kepolisian, para mahasiswa pun bereaksi dengan mendorong balik sembari melemparkan botol-botol air mineral. Namun, perlahan, kerumunan bisa dikendalikan sehingga kemacetan parah bisa terurai.

Aksi demo menolak kenaikan BBM ini memang telah menciptakan antrean panjang kendaraan di Jalan Laksda Adisucipto, baik itu yang mengarah ke Yogyakarta maupun arah sebaliknya (Solo). Sebelumnya, polisi pun berusaha mengurai kemacetan dengan memutar-balik arah yang berasal dari Yogyakarta. Lengkingan klakson baik itu roda dua maupun roda empat terus terdengar bersahutan dengan yel - yel yang diteriakan mahasiswa.

"Saya sendiri tidak sepakat dengan kenaikan harga BBM, tapi saya juga tidak sepakat dengan cara - cara demo seperti ini. Bagaimana coba kalau ada pengguna jalan yang memang sedang terburu-buru," jelas Doni, seorang pengguna jalan.

Sementara itu, Imam S Arizal, selaku ketua umum PC PMII DIY menjelaskan bahwa aksi demo tersebut menitikberatkan pada aspirasi untuk menolak kenaikan harga BBM. "Kebijakan itu merupakan keputusan diskriminatif dan sama sekali tak berpihak kepada rakyat," jelasnya.

Disamping membawa berbagai macam tuntutan, mereka juga melakukan aksi teatrikal sambil membawa keranda jenazah sebagai simbol gagalnya pemerintah.

Korban akibat bentrokan antara polisi dan mahasiswa yang terjadi saat aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Malang, Jawa Timur, bertambah menjadi 42 orang. Awalnya, hanya ditemukan ada 10 korban luka-luka.

Demo menolak rencana kenaikan harga BBM itu, dilakukan pada Rabu kemarin, di depan gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur. Dari 42 korban itu, satu korban harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Unisma Malang. Dia adalah Restu Aji, mahasiswa Universitas Tribuana Tungga Dewi (Unitri) Malang. Restu masuk RSI pada Rabu (28/3/2012) malam. Ia mengalami luka parah di kepala dan mulut, akibat kena pukul pentungan polisi.

"Kami sangat mengecam tindakan polisi yang tidak menusiawi itu. Dan lagi yang memulai anarkis adalah polisi, yang menerobos pagar kawat berduri mengejar mahasiswa," jelas Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Malang, Iden Robert Ulum alias Karebet, Kamis (29/3/2012).

Namun tindakan polisi yang mengakibatkan 42 korban luka itu, kata Iden, tak menyulutkan semangat mahasiswa Malang, untuk berdemonstrasi lagi tetap menolak kenaikan harga BBM, yang jelas merugikan rakyat.

Ditanya apakah akan melaporkan tindakan kepolisian tersebut, Karebet menegaskan, tak akan melaporkan tindakan polisi kepada yang berwajib. Iden menyatakan sudah tak percaya lagi dengan prosedur penindakan kepolisian terhadap pasukannya sendiri.


Aksi penolakan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Kantor DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (28/3), diwarnai bentrokan. Mahasiswa tak terima sejumlah rekannya yang dianggap provokator ditangkap polisi.

Bentrokan kembali terjadi saat mahasiswa dipaksa mundur oleh polisi di jalan protokol Kota Malang. Polisi pun terpaksa membubarkan massa dengan menyiramkan air bertekanan tinggi dari water canon lantaran mahasiswa membakar ban bekas di tengah jalan.
 
Rencana kenaikan harga BBM memang terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Mereka menilai kenaikan itu hanya akan menyengsarakan rakyat kecil.
Korban dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ada 2 orang luka memar, Universitas Brawijaya (UB), ada 2 orang yang luka bocor di kepalanya. "Yang luka memar ada 15 orang. Tiga mahasiswa Unitri terluka dan 6 lainnya memar, mahasiswa Unmer yang luka 3 orang, mahasiswa UM 1 orang yang terluka, dan Universitas Kanjuruhan 1 orang terluka, mahasiswa Unisma 1 orang terluka dan pengurus Cabang PMII 1 orang mengalami luka lengan. Sisanya juga luka memar. Totalnya ada 42 korban luka," paparnya.

Iden menambahkan, pada 1 April nanti, akan ada massa yang lebih besar ke depan gedung DPRD Kota Malang. "Kalau polisi masih memulai anarkis, mahasiswa akan melawannya. Kami sudah tak ingin jadi korban lagi. Mati sekalipun, tak masalah, karena membela rakyat," tegas Iden.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Malang Kota, AKBP Teddy Minahasa Putra, saat ditemui disela-sela aksi kemarin, pihaknya enggan berkomentar. "Saya masih tugas," katanya.

Sementara itu di Kediri terjadi unjuk rasa serupa.

Sedikitnya 50 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) Cabang Kediri melakukan aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per awal April 2012 sebanyak Rp 1.500 per liter dengan membakar peti mati di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (29/3). "Kami menolak dengan tegas kenaikan harga BBM, karena hanya akan mencederai rakyat," kata Ketua HMI Cabang Kediri, M Maghfuri ditemui di sela-sela aksi.

Ia mengatakan, sebenarnya masih ada opsi lain, dan tidak harus menaikkan harga BBM, di antaranya menangkap serta menyita seluruh aset kekayaan para koruptor dan mafia kasus di negeri ini. "Pemerintah masih bisa memaksimalkan pos-pos penerimaan negara yang masih bocor akibat praktik pemerintahan yang buruk. Harusnya, dengan itu pemerintah bisa melakukan penghematan negara," katanya mengungkapkan.
Ia juga mengatakan, dampak kenaikan harga BBM itu dipastikan hanya akan menyengsarakan rakyat. Bukan hanya harga bahan pokok, transportasi, serta berbagai macam kebutuhan lainnya tentunya juga mengalami kenaikan.

Pihaknya juga menyebut, alasan yang dikemukakan oleh pemerintah untuk menaikkan harga BBM juga tidak logis. Pemerintah mengaku menderita kerugian, terlebih lagi sejak adanya pengurangan subsidi dari semula 3 persen dari 17,96 persen pada 2011 menjadi 14,72 persen pada 2012 membuat pemerintah kesulitan.
"Kenapa pos subsidi untuk bantuan rakyat miskin justru dikurangi. Dengan harga BBM yang sekarang ini saja, pemerintah sudah ada untung sampai Rp 97 triliun, jika dinaikkan kami menduga ada yang sengaja menumpuk untuk keperluan Pemilu Presiden 2014," katanya menduga.

Ia berharap, pemerintah tidak menaikkan harga BBM yang hanya menyengsarakan rakyat kecil. Ia meminta, pemerintah memperhatikan suara rakyat dan tidak sepihak menaikkan harga.
Dalam aksi itu, sempat terjadi adu dorong di antara mahasiswa dengan petugas. Mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam kantor DPRD Kota Kediri, karena anggota dewan meminta hanya perwakilan saja.
 
Akhirnya, dua orang mahasiswa masuk untuk menyampaikan aspirasinya dan diterima ketua DPRD Kota Kediri. Walaupun tidak puas, karena hanya dijanjikan untuk diteruskan aspirasinya, mahasiswa akhirnya meninggalkan kantor dewan dengan tertib.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -