‘Ngamuknya’ Dahlan Iskan Menteri BUMN di pintu tol Senayan arah Slipi tadi pagi memberikan pesan pada publik bahwa perubahan itu penting, bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh pemerintah sekalipun.

Suko Widodo akademisi Unair yang juga ahli komunikasi politik mengatakan apa yang dilakukan Dahlan Iskan selama menjadi Menteri BUMN memang penuh dengan inovasi yang menuntut perubahan. ‘Ngamuknya’ Dahlan Iskan tadi pagi, kata Suko, juga harus dimaknai secara konstruktif, yakni membenahi ketidakberesan dalam pelayanan publik.

Dia yakin ini bukan sebuah pencitraan. “Memang begitu itu Pak Dahlan yang saya kenal selama dia menjadi CEO Jawa Pos Group. Orangnya spontan dan penuh dengan ide-ide yang berbeda untuk mencapai target kinerja yang maksimal,” kata dia.

Melempar kursi keluar dari ruang pintu tol, kata Suko, adalah representasi ‘ngamuknya’ publik atas pelayanan publik yang tidak prima. “Apa yang dilakukan Pak Dahlan mungkin mewakili ‘ngamuknya’ orang-orang yang antre di pintu tol. Kan mereka bayar, tapi kenapa harus ngantre. Bayar kok antre? Pak Dahlan itu membongkar ketidakberesan layanan publik. ” kata Suko.

Di sisi lain, ‘ngamuknya’ Dahlan Iskan ini juga sebuah pukulan telak bagi pihak-pihak yang hanya mengeluh dalam bekerja. “Pesan yang mau beliau sampaikan adalah ayo kerja...kerja…kerja. Bantu Indonesia dengan bekerja, bukan dengan mengeluh saja,” ujar dia

Pelayanan aparat dan birokrasi kepada masyarakat di negeri ini memang sontoloyo. Pejabat dan aparat yang dibayar uang negara malah masih juga mempersulit dan menyusahkan masyarakat.
Inilah yang membuat Menteri BUMN Dahlan Iskan marah saat pengelolaan pintu tol dilakukan seenaknya sendiri oleh pihak Jasa Marga. Dahlan Iskan pun mengirimkan penjelasan resmi kepada wartawan terkait berita sikap marahnya di gerbang Tol Semanggi, Selasa (20/3) pagi.

Menurut Dahlan, dirinya tidak membanting kursi tetapi hanya membuangnya ke pinggir jalan. Sebab, imbuh dia, kursi itu betul-betul tidak ada gunanya karena petugas yang seharusnya bekerja tidak ada di loket di tengah-tengah antrean mobil masuk gerbang tol yang begitu panjang.

"Ini juga bukan marah yang mendadak. Sudah tiga bulan saya minta agar antrean masuk tol jangan sampai menjengkelkan. Hampir setiap minggu saya SMS direksi Jasa Marga mengingatkan komitmen kepada masyarakat yang harus kita penuhi," tulis Dahlan Iskan yang dikirimkan dari Guangzhou, China, Selasa (20/3) sore.

Menurut Dahlan, setiap kali dirinya masuk ke gerbang Tol yang antre panjang, Dahlan selalu mengirimkan SMS kepada direksi. "Tapi kok tidak ada tindakan nyata. Sabtu lalu, jam 11.00 saat mau ke Bandung untuk bertemu mahasiswa ITB, saat masuk Pintu Tol Kalimalang-2, antrean juga panjang. Juga saya SMS direksinya," tambahnya.

Dahlan menambahkan, dirinya tidak henti-hentinya mengingatkan hal itu. "Pelayanan itu harus baik. Apalagi ini melayani orang yang mau membayar. Kalau melayani orang yang mau membayar saja tidak baik, bagaimana melayani masyarakat kecil yang tidak punya uang?". Nampaknya, kelakukan aparat dan pejabat di sini memang begajul dan korup. Sebagai pelayan masyarakat pun, mereka biasa bersikap: Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah!  



- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -