Info Awal :
Penemuan mayat di kawasan Kapas Krampung, Surabaya, Selasa (13/03), bikin geger warga setempat. Mayat berjenis kelamin perempuan itu diduga seorang pembantu sekitar umur 30-an.
Sementara sang pemilik rumah tempat ditemukannya mayat, yang diketahui bernama Emil, tidak berada di kediaman ketika mayat ditemukan.



Menurut keterangan seorang warga bernama Misto, korban adalah seorang pembantu perempuan yang baru saja bekerja di rumah Emil.
"Saya tidak tahu tepatnya kapan pembunuhan terjadi. Yang saya tahu mayat korban dimasukkan ke dalam tong," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, mayat korban masih berada di TKP. Bau yang cukup menyengat tercium dari mayat tersebut yang diperkirakan kematiannya terjadi beberapa hari lalu.

Setelah diselediki oleh lanjut ternyata ada perubahan berita :
Akibat cemburu, Emil tega menghabisi wanita simpanan suaminya, yakni Eka (18). Setelah dibunuh, mayat Eka dimasukkan tabung dan disimpan di rumahnya Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya.

Kasus ini terbongkar oleh kecurigaan warga setempat. Dalam beberapa hari terakhir, warga mencium aroma tidak sedap dari dalam rumah Emil. Takut terjadi apa-apa, warga melapor ke aparat kepolisian.

Laporan ditindaklanjuti dengan penggrebekan oleh aparat Polrestabes Surabaya, Selasa (13/3/2012) pukul 10.00 tadi. Hasilnya cukup mengejutkan, aparat menemukan tabung yang diduga menjadi sumber asalnya bau.

Tabung dari besi berukuran diameter 43 cm dan panjang 173 cm lantas dibongkar paksa. Kecurigaan petugas terbukti, di dalam tabung, tergolek sosok mayat yang telah membusuk. Setelah diselidiki, mayat bernama Eka yang merupakan selingkuhan dari suami Emil.

Tidak butuh waktu lama, Emil lantas diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Hasil pemeriksaan sementara, Emil mengakui perbuatannya.

Kronologinya, Emil cemburu akibat hubungan gelap antara Eka dengan suaminya. Hubungan telah terjalin sejak 4 tahun lalu. Bahkan di rumah sebelumnya, keluarga Emil dulu berumah di Jalan Karang Empat, dia pernah memergoki suaminya pulang membawa Eka.

"Sejak kepergok, korban tidak pernah dibawa ke rumah tersangka. Tetapi, hubungan berlanjut dari hotel ke hotel," tutur sumber di kepolisian.

Mengetahui hubungan gelap tak pernah putus, Emil merencanakan pembunuhan. Eka lantas diculik ketika sedang menginap di sebuah hotel. Setelah diculik, Eka dibunuh dan mayatnya dibawa pulang untuk disimpan dalam tabung.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Tri Maryanto saat di lokasi kejadian menyatakan bahwa pembunuhan ini motif dari percintaan. "Nanti akan kita lakukan pemeriksaan terhadap tersangka," katanya, Selasa (13/3/2012).

Untuk sementara ini, aparat menyita beberapa barang bukti. Terdiri dari alat las, alat untuk memukul korban, beberapa benda milik korban berupa HP dan pakaian.

Sesosok jenazah korban pembunuhan diduga kuat disimpan di dalam tabung besi setinggi dua meter dengan diameter 50 sentimeter, yang kemudian ditutup dan dilas, di sebuah rumah di Surabaya, Jawa Timur.

Hingga berita ini diturunkan, Selasa (13/3/2012) siang, petugas identifikasi dari Polrestabes Surabaya masih berupaya membuka tabung dengan peralatan las. Bau bangkai menyengat menyebar di sekitar rumah di Jalan Kapas Krampung Nomor 2010, Surabaya.

Belum ada keterangan resmi dari Polrestabes Surabaya terkait modus baru penghilangan jejak korban pembunuhan tersebut. Informasi yang dikumpulkan  di lokasi pun masih simpang siur.

Keterangan diungkapkan Kasno, yang rumahnya berdekatan dengan lokasi kejadian. Menurut Kasno, besar kemungkinan, mayat yang ada di dalam tabung adalah salah satu pembantu di keluarga itu. Pasalnya, kasus ini terungkap menyusul pengaduan satu pembantu lainnya kepada polisi.

Kasno mengatakan, rumah tiga lantai tersebut dihuni oleh lima orang, terdiri dari bapak, ibu, dan seorang anak, serta dua pembantu.

Sementara itu, salah seorang pegawai Koperasi Buana Makmur yang bersebelahan dengan tempat kejadian perkara menyebutkan, di rumah yang dihuni keluarga berkebangsaan China itu memang kerap terdengar keributan. ''Kadang pagi dan kadang siang, hampir setiap hari,'' kata Yessi.

Keluarga tersebut juga jarang sekali terlihat keluar rumah. "Biasanya hanya pagi, perempuan yang keluar. Tapi saya tidak tahu apakah itu ibu rumah tangganya atau pembantunya,'' tambah Yessi.

Saat ini, kedatangan tim identifikasi Polrestabes Surabaya ke rumah berpagar warna coklat muda tersebut mengundang perhatian warga yang ingin melihat dari dekat proses pembukaan tabung. Arus lalu lintas di Jalan Kapas Krampung pun menjadi macet.

Polisi akan memeriksa Emil B. Sentosa (37) tersangka pembunuhan sadis di Jl. Kapas Krampung 210 ke psikiater. Ini karena tindakan tersangka melakukan pembunuhan dan menyimpan mayatnya dalam tabung besi selama lebih dari sebulan itu dinilai terlalu sadis dilakukan orang normal.

Kompol Sudamiran Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya, Selasa (13/3/2012) mengatakan saat rumahnya di Jl. Kapas Krampung 210 digerebek dan digeledah polisi, Emil mulanya tidak mengaku.

“Dia bersikukuh tidak mengaku keberadaan Eka. Kami melakukan penggeledahan dan akhirnya ditemukan jasad itu di dalam tabung besi,”

Masih belum diketahui apakah Eka Indah Jayanti (27) dalam kondisi hamil saat dibunuh oleh Emil B. Sentosa kekasihnya.

“Kami masih mendalami keterangan sekaligus menunggu hasil pemeriksaan tim Labfor dan identifikasi apakah korban dalam kondisi hamil saat dibunuh,” kata Kompol Sudamiran Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya.

Pada hari Selasa (13/3/2012), Sudamiran mengatakan korban dan pelaku pembunuhan sudah 4 tahun menjalani hubungan. Sementara Emil B. Sentosa sudah beristri dan memiliki 3 anak. “Istri pelaku pembunuhan sering ribut dengan korban, karena itu Emil memisahkan keduanya,” kata dia.

Seperti diberitakan, polisi yang mendapat informasi adanya pembunuhan di Jl. Kapas Krampung 210 menemukan jasad Eka di dalam tabung besi yang dilas. Ini dilakukan untuk menutupi jejak pembunuhan yang dilakukan Emil, Sabtu (11/2/2012) lalu.

Satreskrim Polrestabes Surabaya mendalami peran Patricia Yolan Dahlia (29) istri Emil B. Sentosa dalam pembunuhan terhadap Eka Indah Jayanti (27). Kompol Sudamiran Kasatreskrim Polrestabes Surabaya mengatakan dari pemeriksaan polisi diketahui bahwa istri Emil itu ikut membantu menyembunyikan jenazah Eka dalam tabung besi.

“Memang Patricia Yolan Dahlia, istri tersangka ikut membantu membersihkan mayat korban, membungkusnya dengan plastik, kemudian memasukannya dalam tabung besi lalu dilas,” kata dia.

Tapi pembunuhan terhadap Eka Indah Jayanti disebut Sudamiran dilakukan tunggal oleh Emil pada Sabtu (11/2/2012).

Untuk menggali keterangan lebih dalam keterlibatan Patricia Yolan Dahlia ini, polisi terus memeriksanya di Mapolrestabes Surabaya. Sementara ini statusnya masih saksi.

Eka Indah Jayanti (27) warga Grobokan, Jawa Tengah harus berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari keributan dengan istri Emil B. Sentosa (37). Sudah hampir 6 bulan ini dia berpindah dari satu hotel ke hotel lain di Surabaya.

Sejak menjalin hubungan dengan Emil B. Sentosa 4 tahun lalu, mulanya memang tidak terendus oleh keluarga Emil. Tapi setelah ketahuan, rupanya beberapa kali Eka dilabrak oleh istri Emil yang tinggal di rumah Jl. Karang Empat.

Kompol Sudamiran Wakasatreskrim Polres Surabaya  mengatakan untuk menghindari ribut dengan istrinya, pengusaha ekspedisi di Flores itu menyediakan rumah untuk Eka tinggal.

“Rupanya hubungan mereka terus menerus cekcok, sampai akhirnya tanggal 11 Februari 2012 lalu, mereka berdua bertengkar dan berujung pada pembunuhan Eka,” kata dia.

Sudamiran mengakui informasi pembunuhan itu didapat polisi dari laporan masyarakat 4 hari lalu. Dia tidak mau membeberkan*siapa pemberi informasi pembunuhan sadis ini.

Tinggal serumah dengan wanita idaman lain (WIL) suami jelas tidak mudah. Itulah yang dirasakan Patresia Yolansia Dahlia. Bebannya semakin berat ketika sang suami, Emil Bayu Sentosa, akhirnya terbukti membunuh Eka Indah Jayanti.

 GUNAWAN SUTANTO, Surabaya

BEBERAPA kali Patresia meminta kepada penyidik Polresta Surabaya Selatan untuk menghentikan pemeriksaan terhadap dirinya. Dia melakukan itu ketika putranya yang berusia setahun, Frengky, menangis. Sembari menenangkan buah hatinya, dia berupaya menjawab pertanyaan penyidik.

"Saya sudah tidak bisa bicara apa-apa. Sekarang semua orang kan tahunya kami hanya seorang pembunuh," ujar Patresia kepada Jawa Pos, Rabu (14/3) lalu. Mata Patresia terlihat sembap. Dia kerap menitikkan air mata karena tak sanggup melihat suaminya ditangkap polisi.

"Sebelum ada dia (Eka Indah Jayanti, Red), saya merasa memiliki kebahagiaan dalam rumah tangga. Kami memiliki kecukupan uang dan anak-anak yang lucu. Tapi, semua kini sudah berubah," ceritanya.

Patresia baru tahu suaminya memiliki hubungan dengan Eka pada September 2011. Namun, menurut pengakuan Emil, istrinya curiga sejak 2009. Emil pun melakukan segala cara untuk menutupi kehadiran Eka. Dia sempat beralasan bahwa Eka adalah anak buah partner kerjanya di Jogjakarta. Emil juga pintar menyembunyikan keberadaan Eka. Perempuan asal Grobogan itu pernah diinapkan di rumah Emil yang di Jalan Karang Empat, Surabaya, hingga berpindah-pindah hotel.

Emil juga beberapa kali menginapkan Eka di dalam mobil yang diparkir di halaman toko swalayan dekat rumah di Jalan Karang Empat dan Kapas Krampung. Tanpa sepengetahuan Patresia, Emil juga pernah menginapkan Eka di dalam mobil di garasi rumah Kapas Krampung.

"Awalnya saya emosional mengetahui hubungan itu. Siapa sih perempuan yang bisa melihat suaminya punya kekasih lain," ujar Patresia.

Namun, perempuan kelahiran Pota, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu lama-kelamaan kebal. Apalagi, dia merasa Eka memperalat suaminya. Dia bahkan mulai berbalik bersimpati kepada suami yang menikahi dirinya pada 2000 itu.

"Saya sempat mengetahui adanya beberapa ancaman yang dilakukan Eka kepada suami saya. Salah satunya ancaman pembunuhan. Saya takut. Saya tidak mau kehilangan suami saya," ujar ibu tiga anak tersebut. Hal itu membuat Patresia semakin protektif terhadap suaminya. Terlebih ketika Eka datang ke Surabaya untuk kali kedua pada September 2011.

"Daripada suami saya keluar bersama Eka dan keselamatannya terancam, saya mengizinkan Eka dibawa dan tinggal bersama," kata Patresia.

Akhirnya, 11 November 2011, Eka tinggal bersama keluarga besar Emil. Patresia menyatakan siap menerima Eka sebagai istri kedua Emil. Syaratnya, Eka tidak boleh membawa Emil keluar dari rumah itu. "Saya takut masa depan anak-anak saya yang masih kecil ini. Apalagi, pernah ada ancaman Eka mau membunuh suami saya," terangnya.

Patresia menilai, Eka memang memiliki maksud tertentu dalam menjalin hubungan dengan suaminya. Apalagi, sebelum ke Surabaya, Eka menjadi pekerja di toko obat di Jogjakarta yang dikelola mantan pacar Emil. "Ada yang memberi tahu saya bahwa Eka hanya bermaksud merusak rumah tangga kami," papar perempuan kelahiran 20 Desember 1983 tersebut.

Selama tinggal bersama, Patresia memperlakukan Eka dengan baik. Dia membebaskan Eka melakukan apa saja. "Saya biarkan dia (Eka) ngapain saja. Tapi, saya diamkan. Saya tidak pernah ngomong kepada dia kalau tidak perlu," ungkapnya.

Belakangan, kehadiran Eka menimbulkan persoalan. Cekcok kerap terjadi antara Emil dan Patresia. Hal itu dipicu ulah Eka yang semaunya. Salah satunya adalah tidak pernah mencuci piring makannya sendiri.

"Dia sudah tahu saya tidak punya pembantu. Tiap hari saya sendiri membersihkan rumah mulai lantai satu sampai tiga. Tapi, dia sering cari masalah," keluhnya. Kalau sudah seperti itu, Patresia tidak marah kepada Eka. Dia justru melampiaskan emosi kepada suaminya.

Banyak kisah unik di dalam rumah tangga Emil dan Patresia pasca kehadiran Eka. Suatu ketika, Emil melakukan rutinitas mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Biasanya Emil berangkat sendiri. Namun, beberapa kali Eka bersikeras ikut mengantar ke sekolah. Patresia tak mau kalah. Dia pun ikut mengantar. Bukan semata karena cemburu, tapi juga takut atas keselamatan anak serta suaminya.

"Kalau saya jahat, sebenarnya saya kan berhak menghalangi dia ikut. Tapi, saya biarkan saja. Untuk mencegah yang tidak-tidak, saya juga ikut keluar rumah," ujar Patresia.

Anak bungsu di antara enam bersaudara tersebut mengaku Eka kerap membuat dirinya cemburu. Ketika Patresia keluar kamar, Eka yang sehari-hari tidur di ruang tamu di lantai dua tiba-tiba mendekati Emil. Memeluk dan membisikkan sesuatu. "Kalau seperti itu, saya langsung masuk kamar lagi," katanya.

Dalam kondisi seperti itu, Emil berusaha menjadi penengah. Dia mendatangi istrinya di kamar.

Patresia mengaku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hari pembunuhan Eka yang dilakukan oleh Emil pada 11 Februari lalu. Ketika itu dia berada di lantai 3 bersama empat anaknya. Dia mengatakan tidak tahu penyebab keributan sore itu antara Emil dan Eka. Yang pasti, suaminya memang kerap ribut dengan Eka soal lelaki lain yang kerap dihubungi korban.

Patresia baru tahu Eka terbunuh setelah dipanggil Emil. Dia kaget saat melihat Eka terbujur dengan beberapa luka di kepala. Kejadiannya berlangsung di lantai 1.

"Lan (sapaan Emil kepada Patresia, Red), coba kau pegang tangan Eka dan kasih dia bangun," ujar Patresia yang menirukan Emil. Dia berusaha membangunkan Eka. Namun, perempuan itu sudah tak berdaya. Tidak ada jawaban. Patresia juga tidak lagi merasakan denyut nadi Eka.

Emil dan Patresia pun panik. Emil lantas memandikan mayat Eka. Sedangkan Patresia ikut menyiapkan baju pengganti. "Saat itu juga saya suruh dia minta maaf pada Eka," tutur Patresia.

Patresia awalnya takut ketika Emil menyimpan jenazah Eka dalam tabung besi. Namun, dia tidak mengizinkan mayat Eka dibuang. "Saya yang menahannya saat hendak dibawa ke Flores. Saya bilang, kalau dibawa ke sana, suami saya harus yang mengantarkan dan menguburkan tabung itu sendiri," ujarnya.

Di sisi lain, Emil mengaku bahwa semua terjadi karena ulahnya. "Sejak saya mengenal perempuan lain, kehidupan keluarga saya memang kacau. Saya tidak konsentrasi kerja, akhirnya seperti sekarang ini," ujarnya. 

Dia mengenal Eka pada 2005. Eka adalah teman curhat Emil yang merasakan kembali dekat dengan mantan pacarnya di Jogjakarta. Siapa sangka, Emil malah tertarik kepada Eka. "Jujur, Eka itu kalau diajak bicara enak," ujar Emil.

Pria asli Flores yang lahir di Surabaya itu mengaku pasrah dengan hukuman yang akan dirinya jalani. Yang dia pikirkan kini adalah masa depan anak-anaknya. "Kalian nanti yang nurut sama mama. Jangan pernah ngomong kasar pada mama," tutur Emil, menasihati anak-anaknya.

Patresia adalah istri kedua Emil. Istri pertamanya, Patresia Maria Merry, dinikahi pada 1992 dan meninggal empat tahun berselang. Emil dan Maria dikaruniai anak perempuan bernama Stefani yang kini berusia 18 tahun. Pada 2000 Emil menikah dengan Patresia dan berbuah tiga putra. Yakni, Sidarta, 9;  Philips, 7; dan Frengky, 1.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -