Jakarta- Mantan Menteri Tenaga Kerja Laksamana TNI (Purn) Sudomo (86) meninggal dunia, Rabu (18/4) hari ini. Pria kelahiran Malang, 20 September 1926 itu meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan.

"Betul, Pak Domo meninggal pukul 10.05 WIB di lantai 2 RS Pondok Indah," ujar Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul. Menurutnya, Sudomo meninggal karena sakit stroke yang dideritanya.


Sudomo masuk ke Rumah Sakit Pondok Indah Sabtu (14/4) malam. Sebelum dirawat, pada siang harinya ia menjadi saksi pernikahan seorang keluarga koleganya. Setelah acara itu ia muntah-muntah. Keluarga tidak menyangka Sudomo terkena stroke karena kondisi bersangkutan sehat.

Saat di rumah sakit, Sudomo sudah tidak ingat apa-apa. Di ruang ICU, dibantu oleh alat monitor jantung. Dokter juga melakukan pemeriksaan di bagian kepala Sudomo. Hasilnya, dokter menduga batang otak Sudomo telah mengalami pendarahan. Itu yang membuatnya tak sadarkan diri.

Setelah sekian lama tidak mendengar kabarnya, berita wafatnya Sudomo tentu cukup mengejutkan. Mendengar 'Sudomo', mengembalikan ingatan sejarah kepada sebuah keadaan politik di tahun 1970 dan 1980-an di era pemerintahan Orde Baru.

Perjalanan karier Sudomo dimulai dari dunia pelayaran yang dijajakinya selepas tamat dari pendidikan SMP pada tahun 1943. Dunia pelayaran mengarahkan ketertarikannya kepada dunia militer. Sudomo muda lalu mulai menapaki dunia militer dengan mengikuti pendidikan Perwira Special Operation dan kursus Komandan Destroyer Gdyna, Polandia. Sudomo menamatkan pendidikannya itu tahun 1958. Di sinilah dimulainya kiprah militer Sudomo.

Prestasinya di dunia militer dan pelayaran membantu kelancaran pendidikannya untuk terus menempuh pendidikan di luar negeri. Sudomo juga sempat mengikuti pendidikan di Lemhannas, Sekolah Para Komando KKO, dan SESKOAL. Sejtmlah operasi militer di bawah komando presiden Sukarno juga pernah dijalankannya. Misalnya, pertempuran di Laut Arafuru dan pembebasan Irian Barat. Dua perang itu menjadi cerita kesuksesannya dalam karier militer Sudomo. Kecemerlangan Sudomo terus berlanjut di era Soeharto.

Di masa pemerintahan Orde Baru ini, Sudomo tercatat pernah mengemban amanah sebagai Kepala Staf TNI AL (1969-1973) dan Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1978-1983 yang bertugas memelihara stabilitas.

Tidak cukup berkarier di militer, sejumlah posisi politik di pemerintahan pernah diembankan Presiden Soeharto ke pundaknya. Sudomo sempat merasakan kursi Senayan dengan menjadi anggota MPR RI, menjabat Menteri Tenaga Kerja (1983-1988), Menko Polkam (1988-1993), dan puncaknya sebagai ketua 
Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1993 hingga 1998. Kariernya berakhir dengan runtuhnya kekuasaan rezim Orde Baru pada tahun 1998 dengan terjadinya reformasi. Posisinya yang penting di masa Orba, membuat publik menilainya sebagai salah seorang kroni Soeharto.

Sejarah kontroversial Sudomo terjadi ketika dirinya menjabat Pangkopkamtib dan Menko Polkam di era Orde Baru. Era awal tahun 1980-an hingga akhir 1990-an merupakan salah satu penggalan sejarah berdarah politik Indonesia. Karena pada kurun waktu itu, rezim Orde Baru memberlakukan UU Subversif. Dunia intelijen Indonesia yang mendapat pembenaran penuh di bawah UU Subversif, diwarnai oleh tangan dingin Sudomo. Sudomo mampu mengendalikan sejumlah kemelut dan konflik sosial-politik di sejumlah daerah. Dunia intelijen Indonesia ketika itu ditangani oleh kepiawaian trio jenderal, yaitu Sudomo, LB Moerdani dan Yoga Soegama.

Sebagai petinggi, wajar bila namanya sering dikaitkan dengan sejumlah kasus. Kasus yang menarik-narik Sudomo misalnya dugaan pelanggaran HAM kasus Talangsari, Lampung, yang terjadi pada 1989 dan juga katabelece Edi Tansil.

"Bapak sebelumnya belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Banyak faktor, mungkin karena tekanan darah tinggi. Bapak belum bisa diajak bicara, masih diinfus dan dirawat intensif," ujar anak pertama Sudomo, Biakto Putra.

Mengenang Soedomo

Almarhum Laksamana (purn) Sudomo sempat didaulat menjadi penasihat Amirul Haj pada tahun 1999. Saat itu, ia  mengusulkan Indonesia membeli pesawat untuk haji. Dengan jumlah jamaah yang sangat besar, sekitar 202.000 orang, lebih menguntungkan jika Indonesia mengoperasikan pesawat khusus untuk haji sendiri. Dengan demikian devisa tak pindah ke luar negeri.

''Pesawat ini bisa dioperasikan sendiri pada musim haji dan disewakan untuk penerbangan reguler pada bulan-bulan biasa,'' ujar Sudomo usai menghadap Menteri Agama Quraish Shihab kemarin. Ia beserta Naib Amirul Haj bidang Operasional Rilo Pambudi dan Naib Amirul Haj bidang Ibadah KH Mukhtar Natsir melaporkan hasil kunjungan ke seluruh embarkasi di Indonesia.

Sebagai contoh, untuk sewa pesawat jenis MD yang dioperasikan dari Ujung Pandang menuju Jeddah, Garuda membayar 2.000 dolar AS per jam terbang. Biaya tersebut menurut sumber sudah all-in termasuk maintenance. Dari hasil pemantauannya, Sudomo menilai pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar. Namun ada yang mengganggu yakni kursi untuk jamaah haji di dalam pesawat yang menurut dia terlalu sempit sehingga mengganggu kenyamanan. ''Sebaiknya kursi pesawat dikembalikan sesuai jarak dan ukuran semula agar jamaah merasa lapang.'' Sudomo juga menyoroti adanya jamaah hamil di embarkasi Solo dan Balikpapan.

Secara umum, ia menilai pelaksanaan pemberangkatan haji dari enam embarkasi berjalan lancar. Menurut dia kelancaran ini ditunjang oleh tiga faktor yakni lengkapnya fasilitas di tiap embarkasi, pelayanan haji satu atap dan prosedur bagaimana mengatasi krisis atau manajemen krisis untuk mengatasi hal-hal darurat seperti keterlambatan pesawat.

Sementara itu dari Jeddah dilaporkan badai debu yang terjadi beberapa hari lalu sudah berkurang. Namun demikian, Kabid Haji pada Konsulat Jenderal RI Jeddah Praptono Zamzam mengingatkan agar jamaah tetap mengenakan masker setibanya di Bandara King Abdul Aziz.

Kadaker Jeddah Rahimin Misdja ketika dihubungi tadi malam mengungkap cuaca di Jeddah kembali dingin. Padahal tiga hari lalu Jeddah disiram hujan debu dengan cuaca panas. Sedang suhu kemarin sekitar 22-30 derajat C. Karena itu, Rahimin Misdja menganjurkan jamaah gelombang II yang sejak kemarin sudah mulai diangkut ke Mekkah membawa kain ihram yang tebal sehingga bisa mengatasi rasa dingin.

''Jaket jelas tak bisa dipakai karena mereka harus mengenakan pakaian ihram begitu selesai proses imigrasi dan bea cukai,'' katanya. Sejak Kamis pagi, jamaah yang datang dari Indonesia langsung diberangkatkan menuju Mekkah. Karena itu dari bandara mereka sudah harus memakai baju ihram untuk melaksanakan umrah atau haji bagi yang berniat melakukan haji ifrad. Sudah empat kloter yang diberangkatkan langsung ke Mekkah. Mereka adalah jamaah Kloter 99 HLP, Kloter 26 Solo, Kloter 100 HLP dan Kloter 27 Solo. Sedang dalam proses pemberangkatan menuju Mekkah adalaha jamaah Kloter 28 Solo.

Dari Madinah dilaporkan satu lagi jamaah Indonesia wafat sehingga jumlah yang meninggal dunia di Tanah Suci menjadi dua belas orang. Jamaah bernama Cicah binti Darkim, 57, asal Kebon Manggu Padasuka, Cimahi Bandung yang berangkat bersama Kloter 85 HLP meninggal di pemondokan di Madinah karena trauma injuries. Jenazahnya telah dimakamkan di Baqi.

Hingga pukul 16.00 WIB kemarin, sudah 214 kloter dengan 107.530 jamaah diterbangkan menuju Tanah Suci masing-masing 104 kloter dari Halim Perdana Kusuma, 40 kloter dari Surabaya, 32 kloter dari Ujung Pandang, 15 kloter dari Medan, 21 kloter dari Balikpapan, dan 29 kloter dari Solo.

Sementara itu dari Asrama Haji Pondok Gede, makin banyak keluarga yang secara ilegal menyusup ke dalam. Mereka membawa kendaraan dan masuk dari pintu belakang. Namun kendaraan mereka tak berani masuk hingga halaman parkir gedung utama melainkan hanya sampai lokasi bazaar dan berkumpul dengan keluarganya di lokasi ini.

Seorang keluarga dari Jakarta Timur dua hari lalu memasukkan tiga kendaraannya ke halaman parkir gedung tempat konsultasi haji. Mereka menunggu anggota keluarganya yang tergabung dalam Kloter 99 HLP namun masih berada di gedung utama. Kemarin keluarga jamaah asal Bandung juga masuk ke dalam asrama dan menunggu di dekat lokasi bazaar.

Padahal Panitia Pemberangakatan dan Pemulangan Haji (P3H) sudah menegaskan jamaah tak boleh dikunjungi agar bisa istirahat. Pengumuman soal itu bahkan ditempel di banyak tempat. Namun tampaknya belum berhasil mengatasi keinginan keluarga jamaah untuk langsung melihat ke dalam asrama. 

Almarhum Laksamana (purn) Sudomo memutuskan untuk kembali memeluk Islam pada 1997. Saat itu, ia menjabat sebagai ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Sudomo menegaskan keputusannya kembali kepada ajaran Islam sama sekali tak bertujuan politik. Inilah berita yang pernah dimuat Harian Republika pada edisi Senin, 08 September 1997 yang ditulis wartawan Republika, Damanhuri Zuhri:

 Ketua DPA Sudomo menegaskan kembali bahwa ia masuk Islam sama sekali tidak bertujuan politik. ''Masa ada yang bilang, kalau saya masuk Islam itu karena ingin menjadi Wakil Presiden. Memangnya saya ada potongan jadi Wapres?'' tandas Sudomo di hadapan ribuan umat Islam yang memadati halaman pondok pesantren Ash-Shiddiqiyah Kedoya, Ahad (7/9).

Sudomo, yang tiba di tempat acara mendapat sambutan shalawat badr itu menegaskan, saat ini yang paling dibutuhkan adalah mawas diri, iman dan takwa serta amal saleh. ''Karena itu saya banyak belajar ke ulama-ulama dan kalau perlu saya nyantri di pondok ini, sehingga lebih mantap iman dan takwa saya,'' ujarnya, disambut aplaus hadirin.

Lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur, yang mengikrarkan diri masuk Islam di kota kelahirannya Jumat tiga pekan lalu tersebut mengakui, ketika menjabat Pangkopkamtib, ia terkesan menakutkan dan galak. Tak sedikit dari para tokoh dan ulama Islam yang ditangkapi.

''Terus terang, tindakan tersebut sama sekali bukan didasarkan terhadap sentimen agama. Karena setiap agama itu baik. Karena itu saya mohon maaf kepada ulama dan umat Islam. Mohon maaf yang sedalam-dalamnya,'' tandas Sudomo.

Menurut Sudomo, tidak jarang ada oknum-oknum tertentu yang berusaha mencari celah-celah untuk meretakkan dan menghancurkan kerukunan yang ada di antara kalangan agama di Indonesia. ''Saya mengajak para ulama untuk berhati-hati menghadap isu-isu yang dilemparkan para oknum itu,'' ujarnya.

Selama berada di lingkungan pemerintahan, ia mengaku banyak mengetahui ulah para oknum yang berusaha untuk menciptakan kerusuhan. ''Saya siap diminta nasehat bila terjadi hal-hal yang tidak baik di masyarakat. Jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya,'' tambah Sudomo.

Mengenakan jas hitam dan peci hitam, Sudomo yang kemarin mendapat nama tambahan ''Muhammad'' di depan namanya oleh KSAD Jenderal TNI Wiranto, mengungkapkan bulan Desember nanti akan melaksanakan ibadah umrah dan bulan April menunaikan ibadah haji. ''Insya Allah ini kali pertama saya berada di Tanah Suci pada malam natal dan tahun baru,'' paparnya.

Kehadiran mantan Menko Polkam dan mantan Menaker yang dikenal sering bicara ceplas-ceplos ini, menjadikan suasana tabligh akbar dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul XI di pondok pesantren Ash-Shiddiqiyah Ahad tambah meriah. Ia berkali-kali menarik perhatian jamaah dengan kelakarnya.

Meski mengaku belum lancar melafalkan ayat-ayat Alquran dan al-Hadits, kemarin dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 20 menit itu, Sudomo banyak mengutip Alquran. Salah satunya adalah ayat Alquran Robbana laa tujig qulubana ba'da izhadaitana wa hablana min ladunka rohmah innaka antal wahhab (Ya Allah, janganlah Engkau ombang-ambingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan berikanlah kepada kami rahmat karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi).

Dai sejuta umat, KH Zainuddin MZ yang hadir dalam acara tabligh akbar kemarin menyebutkan, masuk Islamnya Sudomo memberikan makna besar bagi dirinya sendiri dan bagi umat Islam. ''Tinggal yang penting apakah ia masuk Islam berasal dari hati nuraninya atau karena alasan politik. Kalau karena alasan politik, maka ia sangat keliru,'' ujar Zainuddin.

Namun demikian, Zainuddin yang juga menjadi ketua Yayasan Hira merasa yakin bahwa masuk Islamnya Sudomo atas dorongan hati nurani dan bukan karena alasan politik. Hal itu, kata dia, bisa dilihat dari semangat Sudomo yang selalu meminta kepada ulama untuk membimbingnya. ''Kepada saya pun ia meminta untuk selalu memberinya bimbingan,'' tambahnya.

Ketika ditanyakan, apakah kyai Zainuddin bersedia jika diminta untuk mendampingi mantan Menko Polkam itu melaksanakan umrah dan ibadah haji dengan tegas Zainuddin menyatakan kesediaannya. ''Ini merupakan suatu kehormatan bagi saya,'' tandasnya.

Ia menambahkan, dalam pandangan Islam yang penting dari seseorang itu adalah masa kini dan yang akan datang. Toh banyak orang yang menjadi pejuang Islam padahal dulunya memiliki masa silam yang kurang baik. ''Mudah-mudahan saja Pak Domo bisa seperti Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid yang sunguh-sungguh berjuang untuk Islam.''

Dalam kesempatan itu, untuk membantu pendidikan di lingkungan pondok pesantren Ash-Shiddiqiyah, kemarin Sudomo memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta sebagai wakaf untuk kedua orangtunya yang telah wafat. ''Saya merasa memiliki pondok ini,'' tuturnya polos. Sebelumnya, KSAD Jenderal TNI Wiranto memberikan bantuan sebesar Rp 50 juta dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Sutiyoso sebesar Rp 20 juta. 

Mantan Ketua PP Muhammdiyah Amien Rais tersentak mendengar kabar duka mantan Pangkopkamtib Laksamana Purn Sudomo meninggal dunia. Amien yang keras mengkritisi Orba, tentu mengenal Sudomo.

Bagi Amien, Sudomo dahulu dikenal sebagai tokoh politik yang kontroversial. Tak heran istilah 'SDSB' pun sempat disindirkan Amien pada Sudomo.

"Yang suka Sudomo menyebut SDSB itu 'Sudomo Datang Semua Beres'. Bagi rakyat kebanyakan SDSB disebut 'Sudomo Datang Semua Bubrah (kacau balau)," kata Amien saat berbincang dengan detikcom, Rabu (18/4/2012).

Zaman Soeharto, SDSB itu juga merupakan sebuah undian berhadiah. Jadi istilah ini memang populer. Nah, kebetulan, jabatan Sudomo sebagai Pangkopkamtib saat itu membuat dia berlaku tegas.

"Pedagang asongan yang merasakan itu (SDSB)," jelas Amien.

Tapi menurut Amien semua adalah masa lalu. Selaku manusia Sudomo memiliki plus minus dalam sejarah. Tak elok pula mengungkit kesalahan masa lalu.

"Dulu kita sering berdebat beradu komentar secara positif di media. Sekarang yang jelas kita antar dia menuju ke tempat peristirahatannya," tutur Amien.

Amien pun mengajak untuk mendoakan Sudomo. Walau pernah berseteru di media, semuanya adalah masa lalu. "Kita doakan yang meninggal agar diterima di sisi Allah," doanya.\

Mantan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo telah tiada. Dia menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani perawatan di ICU RS Pondok Indah sejak Sabtu (14/4) lalu.

"Meninggal pukul 10.05 WIB," kata putra sulung almarhum, Biakto Nugroho, saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (18/4/2012).

Sudomo akan disemayamkan lebih dahulu di rumah duka di Pondok Indah. Almarhum akan dimakamkan Kamis (19/4).

"Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata," tambah Biakto.

Sudomo meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Dia merupakan orang kepercayaan SOeharto di masa Orba. Aneka jabatan elite pernah diembannya, seperti Pangkopkamtib yang bertugas memelihara stabilitas, Menaker, Menko Polkam, hingga Ketua DPA.

Selamat Jalan Pak DOMO, kami turut kehilangan putra terbaik bangsa ini. Segenap Pimpinan dan Krew SejahteraFM.com turut berbela sungkawa dan bersimpati sedalam-dalamnya terhadap keluarga yang ditinggalkan.


- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -