JAKARTA - Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, mengalami bencana banjir terburuk 10 tahun terakhir. Ketinggian air capai 1,5 meter di sejumlah RW di Pluit.

Pantauan wartawan di Jalan Pluit Indah Raya, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (18/1/2012), ratusan warga memadati jembatan Kali Karang yang membelah Jalan Pluit Karang dengan Jalan Pluit Indah Raya. Ketinggian air di kawasan ini mencapai 1,5 meter atau setinggi dada orang dewasa.

Mulai dari TNI, Damkar, PMI, dan yayasan sosial di sekitar Pluit bahu membahu menyelamatkan sejumlah warga yang masih terjebak di rumahnya. Warga pun ada yang memilih mengungsi di hotel-hotel sekitar Pluit dan ada juga yang mengungsi di Sekolah Yayasan Permai.


"Pokdar, Budha Tsuchi, Jajaran RW, tokoh masyarakat, semuanya. Ribuan tapi lebih tepatnya hampir tidak terhitung karena warga bergantian," ujar tokoh masyarakat setempat bernama Akiong ketika ditanya jumlah tenaga evakuasi.

Akiong menambahkan Pluit belum pernah mengalami banjir separah ini sejak 2002. Ia mendapatkan kabar air menggenangi seluruh kawasan Pluit sampai hampir terisolir.

"Terakhir banjir seperti ini tahun 2002. Ketinggian ini 2 meter, biasanya nggak begini. Pompa jalan sampai sekarang, tapi nggak seimbang dengan volume air. Ini dari waduk Pluit yang meluap semalam," ujar pria yang dikenal dekat dengan Wagub DKI Jakarta Basuki T Purnama.

Hingga saat ini belum ada tanda-tanda air akan surut. Terlebih banjir ini juga sampai ke kediaman Basuki setinggi 20 cm.

"Tadi pagi saya ke rumahnya tapi hanya sampai jalan, sekitar 20 cm, nggak sampai rumah," ujar Akiong yang menyebutkan rumah Basuki di Pantai Mutiara Blok J No 39.




Banjir setinggi 1,5 meter yang menenggelamkan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, datang saat ratusan ribu warga Pluit terlelap. Alhasil, puluhan ribu warga masih terjebak di rumah mereka.

"Ini dikepung dan banyak warga nggak bisa keluar. Kelurahan Pluit ada 7 RW, sekitar 14.000 jiwa, termasuk anak-anak jadi 20.000 jiwa," kata Kepala Kelurahan Pluit Tahta Yujang di Posko Siaga Banjir Pluit, Jalan Pluit Indah, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (18/1/2013).

Sejak subuh proses evakuasi terus dilakukan tanpa henti. TNI, Damkar, PMI, polisi, yayasan sosial, dan masyarakat mengeluarkan perahu atau membuat rakit dari bambu dan dirijen untuk proses evakuasi.

"Dibutuhkan evakuasi, konsumsi kita cukup, ada warga yang masih kejebak, dan ada warga di lantai 2 mungkin sampai 10.000 orang tapi dari pagi sudah kita evakuasi," ujar Yujang.

Yujang memperkirakan hingga sore ini masih ada 2.000 warganya yang terjebak. Ia berharap konsumsi warganya yang terjebak cukup hingga bantuan perahu datang ke tempat mereka.

"Kita punya data tapi intinya kita bergerak. Mungkin sekitar 2.000 orang. Konsumsi mereka kita perkirakan cukup," ujar Yujang.

Yujang menambahkan lima RW di kelurahannya mengalami ketinggian air hingga 1,5 meter dan menjadi prioritas. Ia pun bersyukur warga sekitar dan korban bersama-sama mengatasi bencana ini.

"Sementara untuk evakuasi kita aplusan, RW 03 lalu RW 07, RW 18 lalu RW 17 gantian. Hampir semua kelurahan di Penjaringan terendam. RW 04, RW 05, RW 06, RW 07, RW 09 yang paling parah, sampai sedada," ujar Yujang.

Gubernur DKI Joko Widodo menduga ada kelalaian pengelolaan banjir di masa lalu. Karena itu, dia menginginkan agar ada pihak yang mengingatkannya bila dia lalai di musim banjir tahun ini.

"Ini kerja besar jangan kita ada lalai lagi, ini musim banjir. Kita sudah berpuluh-puluh tahun lalai terus," kata Jokowi saat meninjau perbaikan tanggul jebol di Jl Latuharhary, Jakarta Pusat, Jumat (18/1/20130.

"Jangan lalai. Nanti kalau saya nggak inget, diingetin, ada action yang konkret ada action yang jelas setelah musim hujan ini selesai," sambungnya.

Jokowi juga meminta agar publik terus meningingatkannya soal program-program perbaikan banjir, seperti normalisasi sungai, sumur resapan dan waduk. Semua itu harus segera dilaksanakan.

"Segera diputuskan, jangan lama-lama. Berapa triliun yang kita keluarkan kalau banjir-banjir kita biarin terus," tegasnya.

Mantan wali kota Solo ini menilai, ada faktor alam dan infratstruktur yang jadi penyebab banjir di Jakarta. Seharusnya, dalam pembangunan di DKI, ada kalkulasi yang sifatnya jangka panjang, terutama menyangkut dampak lingkungan dan banjir.

"Tapi itu kita bicara setelah banjir selesailah. Saya pengen bicara hal-hal yang berkaitan dengan sekarang aja. Karena masalah kita juga banyak sekarang," imbuhnya.

Waktu telah menunjukkan pukul 23.30 WIB, jelang tengah malam. Malam itu, sebagian besar orang sudah beristirahat, tetapi tidak bagi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Mantan Wali Kota Surakarta itu tetap blusukan ke permukiman warga.

Jumat (21/12/2012) malam, Jokowi mengunjungi lokasi pengungsian warga Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, di Gelanggang Olahraga setempat. Kedatangan sang Gubernur itu pun disambut pengungsi yang sudah menunggunya. "Itu mobilnya Pak Jokowi Ma," teriak salah seorang bocah kepada ibunya yang tengah berdiri di teras GOR.

Setelah turun dari mobil dinasnya, pria yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih, celana bahan hitam, serta sepatu cokelat itu langsung masuk ke area GOR. Seperti biasa, kedatangan Jokowi disambut dengan salaman dan jepretan kamera ponsel warga. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi memberi sumbangan berupa uang tunai Rp 10 juta serta dua ton beras kepada korban banjir di Kecamatan Makasar melalui perangkat RW dan RT setempat. Jokowi sempat ikut memantau proses pemindahan berkarung-karung beras dari mobil boks milik Pemprov DKI ke dalam area GOR.

Setelah memberi sumbangan, Jokowi bergegas menuju tanggul Kali Cipinang yang jebol. Turut menemani sang Gubernur, Wali Kota Jakarta Timur HR Krisdianto dan Camat Makasar Makmum Gozali. Jokowi berjalan kaki menyusuri jalan setapak gelap berbatu dengan jarak sekitar 100 meter dari tempat pengungsian.

"Busyet, Pak Jokowi jalannya cepet banget," ujar salah seorang warga yang ikut dalam rombongan blusukan tersebut.

Setibanya di lokasi, Jokowi langsung meraba badan tanggul dan melongok ke aliran kali. Sejenak ia terdiam dengan tangan kanan di kepala seperti memikirkan sesuatu. Bahkan, kalimat saran yang terlontar dari orang-orang di sampingnya tampak tak dihiraukan Jokowi.

"Sudah saya lihat semuanya. Besok akan segera diperbaiki," ujar Jokowi singkat.

Rombongan kembali berputar arah ke jalan setapak yang semula dilewatinya. Di ujung jalan, sudah tampak mobil dinas sang Gubernur. Sambil mengatupkan kedua tangannya dengan badan sedikit membungkuk ke arah rombongan warga, Jokowi pamit. "Mari, Bapak Ibu semua," ujarnya yang langsung disambut oleh warganya.

Hari telah beranjak Sabtu dini hari. Gubernur DKI melaju meninggalkan lokasi. Warga serta pejabat setempat pun membubarkan diri. Sebagian kembali ke tempat pengungsian sambil berharap banjir tak kembali melanda, sebagian lagi ke rumah yang sebelumnya tergenang banjir.

Kedatangan Jokowi tersebut bertujuan memantau banjir yang melanda sembilan RT di dua RW, yakni RT 1 dan RT 2 RW 05 serta RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, RT 7, RT 8 dan RT 9 RW 07. Namun, banjir tersebut sudah berangsur-angsur surut kembali.

Banjir itu disebabkan oleh jebolnya badan tanggul Kali Cipinang di RT 4 RW 07. Tanggul jebol karena perbaikannya belum sempurna.



Upaya pencarian korban banjir di basement Plaza UOB di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, masih terus dilakukan hingga malam ini. Diperkirakan ada korban-korban yang terjebak di dalam mobil.

Memang belum diketahui secara pasti berapa orang yang terjebak di dalam basement. Kabar yang beredar ada kemungkinan banyak orang yang terjebak, apalagi ada sekitar 200 mobil yang terendam di basement.

Kepala Humas Basarnas, Gagah Prakoso, tidak menepis kemungkinan itu. "Kalau ada sopir yang tidur, ya mungkin saja terjadi," kata Gagah yang menyaksikan proses evakuasi di Gedung UOB, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (18/1/2013) malam.

Namun Gagah tidak tahu persis berapa orang yang ada di dalam basement yang sudah tertutup air sejak Kamis (17/1/2013) kemarin itu. Jumlahnya simpang siur. Saksi yang merupakan korban selamat, Tri S, mengaku melihat ada tiga orang lain selain dirinya di basement itu. "Itu baru pandangan mata dari korban selamat, mengatakan masih ada tiga orang," kata Gagah.

Tim Basarnas masih terus melakukan evakuasi dan penyelaman. Selama proses evakuasi ini, tim menemui sejumlah kesulitan, antara lain adanya rintangan-rintangan dalam gedung disertai pendeknya jarak pandang. Hal ini mempersulit pencarian korban.

"Visibilitasnya sulit karena air keruh, evakuator saja sulit melihat tangannya sendiri jika menyelam. Ditambah rintangan tembok, pilar-pilar, dan barang-barang di dalam basement tiga lantai itu," tuturnya.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, tim Pemadam Kebakaran DKI terus melakukan penyedotan air. Tim gabungan Basarnas masih terus melakukan penyelaman secara bergantian. Sampai kapankah pencarian dilakukan? "Kami cari sampai ketemu," pungkas Gagah.

Hingga pukul 24.00 WIB, baru dua korban yang ditemukan dan dievakuasi. Korban pertama ditemukan selamat dan kemudian dilarikan ke RS Abdi Waluyo tadi siang. Sedangkan korban kedua ditemukan dan dievakuasi malam ini. Belum diketahui pasti nasib korban. Namun, ada kabar sang korban masih hidup.




Hingga malam ini, banjir yang melanda kawasan Pluit, Jakarta Utara belum surut. Ketinggian air di kawasan ini mencapai lebih dari 1,5 meter. Bahkan cenderung meninggi.

"Saya tinggal di Pluit Barat, samping Tol Bandara. Itu juga aku lihat banjirnya nggak karu-karuan. Depan rumah sedada. Tinggi aku 172 cm," ujar Celo, warga Kompleks Pluit Barat saat dihubungi detikcom, Jumat (18/1/2013).

Menurut Celo, banjir yang menggenangi kawasan Pluit tahun ini adalah yang terparah dibanding dengan banjir besar yang terjadi tahun 2007 lalu. Menurut dia, seluruh wilayah Pluit tergenang banjir akibat luapan dari waduk Pluit.

Celo juga mengatakan banjir di wilayahnya sudah menggenang sejak Kamis (17/1/2013) pukul 17.00 WIB sore dengan ketinggian selutut orang dewasa. Ketinggian air cenderung menaik. Bahkan hingga malam ini, ketinggian air mencapai hampir 2 meter.

"Karena aku bisa lihat dari lantai 2 rumah aku. Mobil-mobil di rumah depan rumah saya itu lampunya sudah tertutup. Kalau untuk jenis mobil Honda Jazz, sudah tenggelam. Beruntung rumah aku cukup tinggi dari jalan. Banjir hanya masuk ke halaman, mobil Pajero Sport aku hanya bannya tergenang sekitar 30 cm," kata Celo yang malam ini berdiam di kamarnya di lantai 2.

Banjir yang merendam kawasan Pluit menurutnya sejauh ini tidak mengganggu jalan tol menuju bandara. Lalu lintas menuju bandara masih lancar. Listrik di kawasannya juga masih mengalir. Tidak padam.

"Yang saya heran, Pluit ini kan bersebelahan dengan Muara Karang dan Pantai Indah Kapuk (PIK). Dan dua daearah itu sepertinya lebih rendah, tapi kenapa Muara Karang dan PIK kering ya. Di sini semua toko-toko, bengkel tutup semua. Padahal tadi siang tidak hujan," tuturnya.

Kendaraan dadakan pada waktu banjir :







Korban kedua yag ditemukan di basement 1 gedung Plaza UOB yang diterjang 'tsunami' banjir Jakarta, diketahui bernama Tito. Ajaib! Dia ditemukan dalam keadaan selamat.

Tito yang berumur 20 tahun merupakan teknisi di Plaza UOB. Saat ditemukan, korban dalam keadaan lemas karena bertahan dalam situasi sulit dan darurat dalam waktu cukup lama.

"Korban bernama Tito (20) belum menikah dengan kondisi hidup namun lemas. Ditemukannya dengan baju enginering," ujar Kahumas Basarnas, Gagah Prakoso, di depan gedung Plaza UOB, Jalan MH Thamrin, Jakpus, Jumat (18/1/2013) malam.

Gagah mengatakan korban ditemukan sekitar pukul 20.30 WIB. Namun karena kondisi yang sulit, korban baru berhasil dievakuasi pukul 22.53 WIB.

"Kondisi air makin tinggi. Mungkin baru surut 40 cm dan keadaan di dalam gelap dan banyak halangan sehingga baru sekarang bisa dievakuasi," tuturnya.

Saat ini korban sudah dilarikan ke RS Minto Harjo.

Seperti diketahui pihak manajemen Plaza UOB menyebut ada 4 karyawan terjebak banjir di basement pada Kamis (17/1) kemarin. Pagi tadi, menurut penjelasan manajemen gedung baru diselamatkan seorang pekerja dalam keadaan kaku dan dirawat di RS Abdi Waluyo. Dengan ditemukannya Tito, korban yang baru ditemukan 2 orang.





Tito, seorang teknisi yang bekerja di Plaza UOB, ditemukan oleh tim evakuasi dari Kodim Jakarta Pusat. Tito yang terjebak di basement Plaza UOB yang terendam banjir sejak Kamis (17/1/2013) kemarin, ditemukan lemas tersangkut di pipa. Tito masih bisa berteriak lirih 'hoi, hoi'.

"Kami temukan dalam kondisi lemas, tangan lebam karena lebih dari 24 jam terendam air. Ditemukan di atas pipa di basement 1 sebelah timur," kata anggota tim evakuator Kodim Jakpus, Deni Suncoko, di Gedung UOB, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (18/1/2013) malam.

Deni menuturkan tim evakuator dipandu oleh teknisi kawan Tito. Teknisi tersebut mengetahui posisi terakhir di mana Tito berada, yaitu di dekat lift di sisi timur dalam lantai basemen satu. Setelah 45 menit, akhirnya pencarian menemui hasil.

"Tito! Tito!" kata evakuator. Tiba-tiba suara lemah terdengar menyahut,"Hoi! Hoi!" Itulah suara Tito.

Tito berhasil dievakuasi sekitar pukul 22.53 WIB. Saat ditemukan, dia masih mengenakan kemeja biru, seragam teknisi. Saat ini, Tito yang lemas dievakuasi ke RS Angkatan Laut Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -