Malang - Rekayasa lalu lintas yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, dinilai berhasil mengurangi pembebanan kendaraan di atas jembatan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat).

Rekayasa itu dengan menutup pintu gerbang Universitas Brawijaya (UB) di sisi utara. Sebaliknya, lalu lintas dari Dinoyo (Jl MT Haryono) menuju Jalan Mayjen Panjaitan bisa langsung lurus, tanpa harus memutar ke Jalan Suhat.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Subari mengatakan dua rekayasa
tersebut berdampak signifikan. Indikasinya tidak ada lagi kendaraan yang harus antre di atas jembatan. “Kami tidak tahu prosentase penurunan kepadatannya. Tapi kondisi di lapangan, lalu lintasnya lancar dan tidak ada antrean di atas jembatan,” ungkap Subari, Selasa (9/7/2013).

Subari menambahkan, penutupan gerbang sebelah utara UB atas kesepakatan dengan UB. Kendaraan yang keluar dari gerbang utara, selama ini menyumbang kemacetan di atas jembatan Suhat. Sebab laju kendaraan yang keluar gerbang memotong laju kendaraan dari Jalan Mayjen Panjaitan, dan menghambat kendaraan dari jembatan yang akan belok ke Jalan MT Haryono). “Yang kami upayakan adalah jangan sampai ada kemacetan di atas jembatan, dan sejauh ini cukup berhasil,” tambahnya.

Humas UB, Dra Susantinah Rahayu mengatan, pihaknya tidak keberatan dengan penutupan gerbang di sisi utara tersebut. Sebab UB mempunyai empat gerbang, masing-masing dua di selatan dan di utara. Dengan penutupan gerbang tersebut, tidak sampai mengganggu lalu lintas di dalam kampus. “Tidak ada rekayasa lalu lintas di dalam kampus, semua berjalan seperti biasanya. Kami masih punya tiga gerbang, jadi tidak masalah,” terangnya saat dihubungi lewat telepon.

UB sudah membuat satu gerbang baru untuk menggantikan gerbang utara yang ditutup. Gerbang tersebut berada di sisi timur, berhadapan dengan makam. Namun sejauh ini gerbang tersebut belum bisa difungsikan. “Secepatnya akan kami fungsikan gerbang sisi timur untuk menggantikan gerbang yang ditutup,” pungkasnya.
Jembatan Suhat dibangun tahun 1988, dan dirancang untuk digunakan selama 20 tahun. Sekarang, usia jembatan itu sudah 25 tahun, sehingga konstruksinya dianggap kadaluarsa. Jembatan ini dulunya dibangun saat kawasan tersebut masih sepi, dan dirancang untuk pembebanan dinamis.

Dinas Perhubungan memantau pasar takjil di ruas Jalan Sorkarno-Hatta (Suhat) Kota Malang, sebab aktivitas ini dikhawatirkan memicu kemacetan di atas jembatan paskarekayasa lalu lintas.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Subari pihaknya berharap tidak ada gangguan yang berarti dari pasar takjil Suhat. Sebab berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, aktivitas ini memicu kemacetan lalu lintas di ruas jalan tersebut. "Ruas jalan tersebut memang padat, aktivitas warga di jalan tersebut kerap menimbulkan kemacetan," ujarnya, Kamis (11/7/2013).

Paskarekayasa lalu lintas di sekitar jembatan Suhat, pihaknya memantau dengan ketat setiap aktivitas warga. Jangan sampai aktivitas tersebut memicu kemacetan di atas jembatan Suhat, khususnya jembatan kerangka baja. "Yang perlu ditekankan jangan sampai ada pembebanan di atas jembatan, seperti kemacetan. Karena pembebanan tersebut yang menurunkan kekuatan jembatan," tambahnya.

Jika nantinya aktivitas pasar takjil ternyata membahayakan jembatan Suhat, pihaknya terpaksa melakukan penertiban. Dari pantauan sementara, rekayasa lalu lintas di jembatan Suhat cukup berhasil. Lalu lintas di lokasi tersebut menjadi lancar dan tidak ada antrean di atas jembatan. "Kalau memang aktivitas pasar takjil tersebut berbahaya, mau tidak mau harus ditertibkan. Kita menghindari kemungkinan terburuk karena kekuatan jembatan Suhat belum diketahui secara pasti," terang Subari.

Pakar transportasi Universitas Brawijaya Malang Sugeng Prayitno Budio mengemukakan Jembatan Soekarno-Hatta yang menjadi jalur poros di kawasan Dinoyo, Kota Malang, rawan runtuh, karena kondisinya sudah tidak elastis lagi.

"Kondisi jembatan yang dibangun 25 tahun itu sudah tidak layak dilewati kendaraan, apalagi jembatan tersebut menjadi titik kemacetan di kota ini. Oleh karena itu, pengguna jalan yang melintasi jembatan itu harus ekstra waspada," tegas Sugeng usai rapat koordinasi terkait uji forensik jembatan tersebut di Balai Kota Malang, Selasa.

Sugeng yang juga Ketua Tim Uji Forensik Jembatan Soekarno-Hatta itu mengatakan berdasarkan uji forensik tahap pertama, jembatan yang berhadapan dengan pintu gerbang UB itu sudah tidak elastis, jika beban kendaraan semakin berat dan dalam kondisi berhenti (macet) bisa menimbulkan putusnya pengait jembatan.

Jika salah satu pengait jembatan itu putus, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan pengait yang lainnya juga akan putus dan akhirnya runtuh. Apalagi jika sampai terjadi kebakaran, jembatan akan runtuh seketika, sebab usia jembatan sudah tua dan menjadi salah satu faktor pemicu rawan runtuh.

Untuk memastikan kondisi jembatan, katanya, perlu dilakukan penelitian dan uji forensik lebih lanjut, sambil mencari solusi dan menerapkan rekayasa lalu lintas di kawasan Dinoyo.

Ia mengakui uji forensik ini baru pendekatan awal, namun yang pasti kondisi jembatan Soekarno-Hatta harus segera dicarikan solusi, karena sudah tidak nyaman akibat kemacetan dan tidak aman karena kondisinya yang sudah tidak layak dilalui kendaraan.

Menurut Ketua Jurusan Teknik Sipil UB itu, uji forensik lanjutan akan segera dilakukan dan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. "Hasil uji forensik lanjutan ini juga segera kita laporkan ke Pemkot Malang," tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Subari mengatakan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup di kawasan Jembatan Soekarno-Hatta akan diberlakukan mulai pekan ini.

"Sistem crossing dengan membuka dan menutup jalur kita mulai nanti malam. Untuk pengoperasian traffic light dimulai akhir pekan ini. Rekayasa lalu lintas tersebut dilakukan agar kemacetan parah tidak terjadi di atas Jembatan Soekarno-Hatta," tegasnya.

Kemacetan di atas jembatan khususnya pada pagi dan sore hari membuat beban jembatan semakin besar, padahal kondisi jembatan harus kosong, karena jembatan Soekarno-Hatta didesain untuk kendaraan bergerak, bukan untuk kendaraan diam.

Subari menegaskan kalau sistem crossing telah diberlakukan dan ada warga yang melanggar, pasti akan dikenai sanksi tilang, apalagi di kawasan itu nanti ada petugas Dishub dan kepolisian yang berjaga. "Semua ini kami berlakukan demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan," tandasnya.


- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -