Malang -- Meski di beberapa daerah sudah dibelakukan sejak 18 Agustus 2014 lalu, dampak pengurangan kuota BBM bersubsidi khususnya jenis solar oleh pemerintah baru dirasakan warga Malang Raya pada Senin, (25/8) . Kelangkaan solar terlihat di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Malang Raya.

Teuku Rizal Pahlevi, selaku Ketua Himpunan Pengusaha Swasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Malang mengatakan, pengurangan kuota Solar di wilayah Malang Raya mencapai 20 persen, sedangkan premium mencapai 10 hingga 20 persen.

"Pengurangan kuota ini merupakan keputusan DPR RI, sehingga kami hanya bisa menerima," ungkapnya.

Menurut Rizal, pengurangan kuota BBM bersubsidi di SPBU dilakukan agar jumlah BBM bersubsidi mencukupi hingga Desember 2014.

"Pengurangan ini merupakan bentuk kontrol terhadap konsumsi BBM, jika kuotanya tidak dikurangi kemungkinan BBM hanya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hingga bulan November 2014," jelasnya.

Sebelum aturan pengurangan kuota ini Ngalamers, konsumsi BBM bersubsidi jenis premium di Malang Raya mencapai 1.000 kiloliter per hari, sedangkan solar 300 kiloliter per hari. Rizal menambahkan, "Pengurangan kuota juga dilakukan untuk mengalihkan masyarakat agar membeli BBM non subsidi seperti Pertamax,".

Untuk mengantisipasi kelangkaan BBM, pihak SPBU bisanya melakukan pembatasan pembelian oleh konsumen. "Untuk kendaraan roda dua tidak masalah, tetapi biasanya untuk mobil jumlah pembeliannya dibatasi," pungkasnya.

- Copyright © Sejahtera FM - Odanje.com - Powered by OdanJe - Designed by D-tube -